Circle Route: Beach is a good place to think about future

IMG_8723Excuse me, do you mind if I sit here? This is my favorite spot,” kata seorang perempuan bule padaku sambil menunjuk spot persis di sebelahku.

Siang ini aku menghabiskan waktu di Cottesloe Beach, pantai cantik yang berhias bangunan tua di salah satu sudut pantainya. Pantai yang selalu ada di hampir semua kartu pos yang dijual di Perth. Di pantai itu aku duduk menunggu matahari terbenam. Sore itu Cottesloe Beach ramai oleh pengunjung. Maklum, Perth mulai hangat. Summer is just right in the corner, kalau kata orang-orang di sini. Musim panas hampir tiba. Pantai menjadi surga bagi orang-orang yang tersiksa selama musim dingin. Sementara buatku, pantai menjadi surga karena selalu membuatku teringat Banyu dan kegemaran kami mengejar senja bersama, juga Bagas, untuk secuil senja di pantai Kewuru yang sempat kami nikmati berdua.

No, I don’t mind,” kataku akhirnya pada perempuan bule tersebut.

I’m Andrea,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

I’m Bening,” balasku.

Where are you from, Ben..ning?” dia tampak kesusahan menyebut namaku.

“Indonesia,” jawabku.

“Aha. Indonesia. I’ve been there,” katanya antusias.

Lalu dia bercerita tentang Bali, Lombok, Jogja, Jakarta dan daerah-daerah lain yang sudah pernah dia kunjungi. Aku jadi minder karena bahkan aku yang orang Indonesia belum pernah mengunjungi sebagian besar tempat-tempat yang dia sebutkan. Andrea berasal dari Jerman, tapi tengah berlibur di Perth. Seketika kami menjadi teman baik. Kami punya banyak persamaan. Sama-sama menyukai pantai adalah salah satunya.

Do you know, Bening? Beach is a good place to think about future,” kata Andrea.

Aku hanya tersenyum. Bagiku, pantai tidak hanya tempat yang bagus untuk berpikir tentang masa depan, tapi juga tempat yang tepat untuk berpikir tentang masa lalu. Terutama masa lalu yang juga bersetting di pantai. Seperti ketika Banyu menasehatiku tentang Jembar. Di suatu sore di salah satu pantai di kota tempat kami tinggal. Dulu sekali. Pantai juga menjadi saksi kenangan manisku bersama Bagas, yang entah kapan bisa terulang lagi.

Matahari senja yang bulat merah perlahan dilahap Samudra Hindia. Semburat jingga tampak memantul di laut yang katanya banyak hiunya itu. Aku berdecak kagum. Begitu juga Andrea. Dulu aku selalu mengira Jembar adalah matahariku. Tapi ternyata aku salah. Matahariku yang sebenarnya mungkin adalah Banyu. Mungkin. Aku tidak tahu.

So, how long have you been here?” tanya Andrea setelah puas memandangi senja.

I’ve just arrived two days ago,” jawabku.

Oh, Are you on a vacation? Or a mission?” tanyanya setengah bercanda.

Aku hanya mengangkat bahu. Aku sendiri susah mendefinisikan tujuan keberadaanku saat ini di Perth. Jelas aku tengah berlibur karena aku toh berada di sini dengan stempel visa turis di pasporku. Tapi aku juga dalam sebuah misi, misi untuk menemukan Banyu. Misi untuk memperjelas hubungan kami.

“Sebenarnya kemarin ke sini karena urusan pekerjaan, tapi sekarang aku mau liburan saja,” terangku akhirnya.

Lalu aku memberitahunya tentang novelku, dan bahwa aku seorang penulis, juga tentang workshopnya Re yang membawaku ke Perth. Andrea tampak tertarik mendengarnya. Dia bilang dia juga ingin menulis buku suatu saat nanti.

Biasanya aku tak mudah berbagi cerita dengan orang yang sama sekali asing. Tapi entah mengapa aku merasa Andrea orang baik dan kami memiliki cukup banyak persamaan. Tentu saja bukan secara fisik. Wajah Jermannya jelas tak ada miripnya dengan tampang Jawaku. Kalau dipikir-pikir, sudah dua kali ini aku dengan gampangnya mengumbar ceritaku pada orang asing. Yang pertama adalah Bagas. Dan yang kedua tentu saja Andrea.

Andrea beranjak tak lama kemudian. Sebelum berpisah kami saling bertukar nomor telepon. Aku memberinya alamat hotelku dan berjanji akan bertemu lagi besok pagi untuk keliling kota Perth bersama-sama. Dia menawarkan diri untuk menjadi pemandu wisata gratis. Aku tentu saja senang sekali. Pasti lebih menyenangkan menyusuri kota ini dengan seorang teman.

Hari berikutnya kami menjelajah Kings Park, taman luas yang terletak tak jauh dari pusat kota dan spot terbaik untuk menikmati pemandangan Swan River. Andrea bilang, taman ini adalah tempat yang wajib dikunjungi saat berada di Perth. Selain lokasinya yang sangat dekat dengan pusat kota dan bisa diakses dengan bus gratis, tempat ini juga penuh dengan tumbuhan asli Australia, termasuk Boab Tree, pohon berbentuk unik yang terkenal itu. Saat yang paling tepat untuk mengunjungi Kingspark memang di saat musim semi seperti ini di mana semua bunga bermekaran dan burung-burung bernyanyi riang. Aku tak henti-hentinya berdecak kagum.

Puas menjelajah Kings Park, kami menyambangi Subiaco, Fremantle, dan tempat-tempat lainnya di sekitar Perth. Seketika aku jatuh cinta pada kota ini. Perth adalah kota yang nyaman sekali menurutku. Tak terlalu ramai atau semrawut. Meskipun toko-toko hanya buka hingga jam lima sore kecuali hari Jumat, aku justru merasa ritme kota ini sesuai untukku. Tak terlalu lambat, tapi juga tak terlalu cepat.

Tapi memang benar kata orang bahwa Australia Barat itu sangat luas. Aku sudah merasa menjelajah semuanya tapi Andrea bilang, yang kujelajahi itu belum ada 20 persennya dari tempat-tempat yang wajib dikunjungi di sini. Dia menambahkan, masih ada dua sisi lain Australia Barat yang sama sekali belum kujamah: up north atau sisi utara Australia Barat yang lebih dekat dengan Darwin, ibu kota Northern Territory, dan down south atau sisi selatan Australia Barat yang bersuhu lebih dingin, bahkan di musim panas.

Perth juga diklaim sebagai kota paling terisolasi saking jauhnya dari mana-mana. Tapi aku sama sekali tak keberatan. Aku jatuh cinta pada Perth dengan segala kurang lebihnya. Satu-satunya hal di sini yang membuatku sedikit bete adalah lalat yang membuntutimu saat hari mulai hangat atau menjelang musim panas. Mereka mengerumuni manusia dan bukannya makanan seperti umumnya lalat di Indonesia. Kata Andrea, lalat-lalat tersebut sebenarnya sedang mencari air dari keringat manusia karena mereka juga tengah kepanasan. Makanya mereka hanya muncul saat hari terik atau menjelang musim panas. Apapun alasannya, lalat-lalat itu kadang cukup mengganggu. Untungnya mereka tidak terlalu gesit jadi bisa dihalau atau bahkan (maaf) dibunuh dengan sekali kibas.

Dua hari kemudian aku memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang lebih murah. Hotel yang kuinapi sebelumnya tak lagi masuk budgetku karena aku memutuskan untuk tinggal lebih lama. Lagipula hotel itu standarnya Re, bukan standarku, aku mana sanggup membayar biaya sewanya selama tiga bulan. Uang sakuku tak banyak. Aku harus bisa menghemat uang. Beruntung Andrea menawariku untuk tinggal bersamanya karena kebetulan dia juga baru saja pindah ke unit yang baru setelah putus dari pacarnya yang bernama Zach. Baru sejak beberapa hari lalu.

Dia belum banyak cerita mengenai Zach, mungkin karena baru saja putusnya, tapi dia mengaku kesepian setelah putus dengan pacarnya itu. Jadi dia juga merasa senang bertemu denganku. Ada dua kamar di unit Andrea. Aku akan menempati salah satunya selama tinggal di Perth dan patungan dengan Andrea untuk membayar biaya rental tiap minggunya. Dengan dibagi, biaya jadi jauh lebih ringan. Aku merasa sangat beruntung bertemu dengan Andrea mengingat aku tak kenal siapapun di kota ini.

Tentu saja Andrea tak bisa setiap hari mengantarku berkeliling. Selain kuliah, dia bekerja paruh waktu di sebuah toko buku di Subiaco, jadi tak benar-benar memiliki waktu luang untuk selalu menemaniku jalan-jalan. Saat Andrea kuliah atau bekerja, biasanya aku hanya berdiam diri di rumah, mencicil novel keduaku yang tersendat-sendat. Atau kalau sedang benar-benar bosan, aku berkeliling Perth sendirian. Sengaja menyasarkan diriku karena aku percaya bahwa tersesat adalah cara terbaik untuk menjelajah tempat baru. Begitu prinsipku sejak dulu.

Sendirian saja aku mengunjungi Caversham Wildlife Park demi nafsu untuk melihat koala dan kangguru secara langsung. Mengunjungi Australia tentu saja tak lengkap tanpa berfoto bersama dua satwa khas tersebut. Sendirian juga aku mengunjungi Mandurah, demi memotret burung pelikan berburu ikan di teluk-teluk yang ada di sana. Aku beruntung Perth sedang musim semi. Matahari mulai hangat dan hujan jarang datang. Jadi aku bisa mengeksplorasi setiap sudutnya dengan lebih leluasa.

Kali lain aku mengunjungi Araluen Botanical Park bersama Andrea. Araluen adalah taman cantik penuh bunga tulip warna-warni yang luar biasa indah. Saking indahnya, banyak sekali pasangan yang menikah di sana. Saat kami mengunjungi Araluen, ada dua pasang mempelai yang mengadakan acara pernikahan di sana. Mengucapkan janji di bawah pohon pinus yang menjulang tinggi dan di antara bunga-bunga liar yang semerbak wangi. Dalam hati aku berharap kelak jika aku menikah, aku ingin mengadakan pestanya di taman juga, dengan cara seperti itu juga. Pasti asyik. Tak perlu tenda. Tak perlu kursi. Tak perlu listrik. Sederhana sekaligus ramah lingkungan. Sepertinya akan sangat menyenangkan.

“Tapi siapa juga yang bisa kuajak menikah saat ini?” batinku sedih.

Di musim ini juga biasanya banyak festival-festival diselenggarakan. Dari yang gratis sampai yang membayar ratusan dolar, semuanya ada. Salah satunya adalah William Street Festival, festival multikultur yang akan diadakan siang ini di Northbridge, salah satu pusat kehidupan malam di Perth. Aku mengajak Andrea untuk melihat parade budaya yang menjadi bagian dari festival tersebut. Salah satu alasannya, karena dari pamflet yang kubaca, akan ada rombongan komunitas orang Indonesia di parade tersebut. Siapa tahu, Banyu adalah salah satunya. Atau minimal, siapa tahu dia menonton jadi ada kemungkinan kami bisa bertemu.

Kami datang ke lokasi setengah jam sebelum jadwal parade, tapi jalanan sudah mulai penuh dengan orang yang duduk menanti parade dimulai. Aku dan Andrea mengambil tempat di sudut sebuah warung makan Cina yang menggantung bebek panggang di etalasenya. Tidak terlalu nyaman tapi cukup lumayan karena kami masih bisa duduk di baris depan, jadi bisa melihat parade dengan leluasa tanpa terhalang tubuh bule-bule yang jelas lebih tinggi dan lebih besar dariku.

Tepat jam tiga siang, festival di mulai. Rombongan pertama adalah klub peniup bagpipes, atau terompet khas dari Skotlandia. Lalu dilanjut dengan rombongan liong dan barongsai dari komunitas Cina di sini, kemudian kelompok penari samba dan capoeira yang berasal dari Brasil. Rombongan demi rombongan berlalu tapi aku belum melihat rombongan dari Indonesia.

Akhirnya setelah hampir setengah jam, dari kejauhan aku bisa melihat bendera berwarna merah putih dikibarkan ke kanan dan ke kiri. Pasti itu rombongan Indonesia. Aku menunggu dengan tidak sabar. Tapi saat mereka lewat, aku hanya bisa menghela nafas kecewa. Tak ada Banyu di rombongan itu. Aku yakin benar karena sebagian besar dari mereka adalah para perempuan yang mengenakan pakaian adat Jawa, Sunda, Bali, Dayak, Bugis dan lainnya. Hanya ada tiga orang laki-laki. Tapi mereka bukan orang Indonesia, melainkan orang-orang Australia yang sepertinya adalah suami-suami dari perempuan-perampuan Indonesia tersebut. Pudar sudah harapanku. Lagi-lagi aku belum berhasil menemukan Banyu.

Begitu parade selesai, Andrea dan aku beranjak pulang. Aku tak terlalu banyak bicara sepanjang perjalanan menuju mobilnya. Masih kecewa karena belum berhasil menemukan Banyu.

Are you okay, Bening?” tanya Andrea karena aku diam saja sejak tadi.

Yeah, I’m just bit tired,” jawabku.

“Kayaknya aku tahu satu hal yang bisa membuatmu lebih ceria,” kata Andrea.

Dia lalu mengajakku untuk kembali ke lokasi festival dan membeli cotton candy atau gula-gula kapas yang terakhir kali kunikmati saat aku masih SD. Andrea benar, makanan berwarna pink cerah itu membuatku sedikit lupa akan kegagalan usahaku dalam menemukan Banyu.

Sambil menikmati cotton candy, aku memutuskan untuk jujur kepada Andrea tentang salah satu alasanku mengunjungi Perth selain karena diskusi bukuku waktu itu. Aku setengah berharap barangkali dia bisa membantu. Siapa tahu dia kenal orang yang kenal Banyu. Lagipula dia sudah menjadi teman baikku saat ini. Aku rasa dia berhak mendengar cerita itu dariku. Aku juga merasa butuh teman mengobrol. Aku tak bisa hanya diam saja dan meratapi ini semua. I need to let it out.

Maka aku pun menceritakan semuanya tentang Banyu. Tentang dia yang sebenarnya adalah sahabat baikku sendiri. Tentang cintaku padanya. Tentang keraguannya padaku. Tentang betapa ingin sekali aku bertemu lagi dengannya setelah sekian lama. Tentang aku yang ingin tahu keadaannya saat ini. Tentang aku yang ingin memperjelas semua ini agar bisa menata hidupku dan memulai lagi dari awal.

“Aku ingin mencari tahu ujung cerita cintaku dengan Banyu. Tak masalah apakah dia masih mencintaiku atau tidak. Tak masalah jika dia mungkin sudah bersama orang lain. Aku hanya ingin duduk dan mengobrol dengannya tentang perasaan ini,” kataku.

Andrea mendengar keseluruhan ceritaku dengan seksama. Dia bahkan berjanji akan mencoba mencari tahu lewat teman-temannya juga. Siapa tahu ada yang kenal Banyu. Mendengar itu, aku jadi merasa kembali memiliki harapan untuk menemukan Banyu. Mungkin besok. Mungkin lusa. Mungkin minggu depan. Banyu pasti berhasil kutemukan.

Dalam perjalanan pulang, Andrea lalu gantian bercerita tentang Zach. Tentang mereka yang bertemu tanpa sengaja di sebuah desa di sisi utara Australia Barat lalu jatuh cinta. Tentang dia yang akhirnya memutuskan untuk kuliah dan tinggal di Perth demi laki-laki itu. Tentang dia yang merasa sudah memberikan semuanya, tapi Zach tetap tak bisa mengerti apa yang dia inginkan bahkan tak memberikan cukup perhatian padanya.

“Sebenarnya kami sudah sering bertengkar. Selama hampir setengah tahun bersama, kami selalu putus nyambung. Hubungan kami sudah seperti lagu saja. We fight, we break up. We kiss, we make up,” cerita Andrea padaku.

Dia tampak tidak seceria biasanya. Aku jadi ikut sedih.

But I had enough, Bening. I don’t want to spend my life with someone who can’t even say “I love you too”. I don’t think he really loves me. I deserve someone better,” tambahnya.

Tampak jelas bahwa Andrea masih kesal dengan Zach. Dia bahkan sudah mengganti nama Zach di ponselnya dengan “don’t answer”. Sejak dia pergi dari rumah Zach, sekali dua kali Zach sempat menelpon, tapi tak digubris oleh Andrea. Sejak itu mereka nyaris tak pernah berhubungan sama sekali.

Andrea mengaku bahwa kadang dia merasa kangen dengan Zach. Apalagi sebelum ketemu aku. Berat baginya melupakan laki-laki yang sudah membuatnya membuat keputusan besar: tinggal di Australia dan bukannya kembali ke Jerman. Beberapa kali dia mencoba berhubungan dengan laki-laki lain. Tapi belum ketemu juga yang cocok. Aku berusaha menghibur Andrea.

It’s just a matter of time,” kataku sambil tersenyum.

Andrea ikut tersenyum. Jauh di dalam hati aku merasa, sebenarnya itu juga sebuah nasehat untuk diriku sendiri.

-Bersambung-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s