Circle Route: Cerita Bening (Bagian Lima)

Mencari Banyu

“Halo darling, gimana workshopnya, seru?” tanya Tim padaku saat aku menelponnya setelah workshop selesai.

Panitia acara membantuku membeli kartu lokal untuk kugunakan selama aku di sini. Jadi aku bisa mengabari teman-teman dan keluargaku di Indonesia, terutama Tim, karena dia pasti enggak bisa enggak tahu kabar tentangku selama di sini. Atau lebih tepatnya, enggak bisa enggak tahu kabar tentang novelku.

It was good,” jawabku.

“Omong-omong Tim, kayaknya aku enggak buru-buru balik ke Indonesia ya,” kataku lagi setengah meminta persetujuan.

“Lhoh, kan memang tiketmu masih besok, bener kan?” Tim balik bertanya.

“Iyah, maksudku bukan besok. Aku mau stay di sini sampai visa turisku habis. Sampai tiga bulan,”terangku.

Tim terdiam cukup lama. Sepertinya dia sedikit khawatir dengan naskah baru yang tengah kususun.

“Aku janji, naskah novel yang baru tetep selesai sesuai jadwal,” kataku berusaha meyakinkan.

“Apakah ini ada hubungannya dengan “Bau Badan”? Hahaha,” Tim tergelak.

Dia tentu saja tahu kisahku dengan Bau Badan alias Banyu karena dialah tokoh utama di novelku. Tim bahkan langsung bisa menebak bahwa novelku ini adalah sejenis “pengalaman pribadi” sejak hari pertama kutunjukkan naskah novelku itu padanya. Aku ikut tertawa.

“Kurang lebih,” kataku.

“Oke, take care.” kata Tim akhirnya.

Wait, what about Re?” tambah Tim.

Lagi-lagi dia terdengar khawatir.

She said it’s fine,” jawabku.

Alright then, good luck,” kata Tim lagi.

Thanks,” kataku sebelum mengakhiri pembicaraan.

Sebelumnya aku memang sudah menemui Re dan menyampaikan keinginanku. Awalnya dia keberatan, tapi setelah kujelaskan tujuanku, dia mengerti. Re bahkan menolak aku membayar biaya tambahan untuk tiket pesawat yang kurubah jadwalnya.

“Anggap aja itu honormu,” begitu katanya saat aku memaksa.

Workshop kali ini aku memang tidak dibayar. Tapi itu tentu saja tidak masalah. Semua biaya pulang pergi dari Jakarta ke Perth ditanggung oleh Re dan penerbitnya, aku, juga Ocha dan Gin, tinggal ngikut saja. Jadi kami tak benar-benar butuh bayaran. Apalagi dilibatkan dalam kegiatan penulis seterkenal Re, kami lah yang seharusnya berterima kasih.

Good luck with your BB,” bisik Re usai kami makan malam.

Aku tersenyum. Sepertinya Re juga tahu soal Banyu.

Lu serius mau tinggal lebih lama, Bening?” tanya Ocha saat kami berjalan menuju kamar.

“Iyah,” kataku pendek.

“Nekad juga lu ya,” tambah Ocha.

Aku hanya tersenyum. Ocha tak bertanya lagi. Dia hanya berceloteh bahwa seandainya dia tak punya tanggungan pekerjaan di kantornya, dia juga ingin tinggal lebih lama. Ocha memang masih bekerja sebagai banker di salah satu bank ternama di Indonesia.

I’m a full time writer, part time banker,” begitu selalu dia berujar.

Aku hanya tersenyum-senyum saja menanggapi. Setengah bersyukur karena aku sudah keluar dari pekerjaan “formal”ku.

Ocha langsung ngorok begitu kepalanya menyentuh bantal. Anak ini memang sejenis “pelor” alias nempel molor. Gampang sekali tidurnya. Enggak di pesawat, enggak di kasur, begitu nempel langsung tertidur. Aku menekan nomor Tim untuk mengabari perubahan rencanaku.

Keputusanku sudah bulat untuk tinggal lebih lama di kota ini. Bukan hanya hingga besok tapi hingga beberapa bulan lagi. Sebelah hatiku masih ingin menemukan Banyu, meski sungguh aku tak tahu harus mulai dari mana. Haruskah kudatangi kantor Konsulat Jendral Indonesia yang ada di Perth? Mereka semestinya punya data orang-orang Indonesia yang tinggal di sini. Haruskah kusambangi tempat kuliahnya dulu? Siapa tahu dia bekerja di sana. Atau haruskah kutelusuri setiap jengkal kota ini dan berharap tiba-tiba tanpa sengaja aku akan berpapasan dengannya di jalan? Atau di kafe? Atau di tempat-tempat wisata yang penuh turis? Tapi aku kan tidak tahu apa-apa soal Perth. Selama ini aku hanya tahu Perth dari cerita-cerita Banyu. Aku baru sadar bahwa Ocha benar, keputusan untuk tinggal barusan ternyata cukup nekad.

-Bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s