Circle Route: Cerita Banyu (Bagian Tiga)

Waktu yang tepat

Aku sedang dalam perjalanan pulang dari kantor saat tiba-tiba mataku tertambat pada satu poster yang dipasang di jendela sebuah kafe. Aku membaca lagi salah satu nama yang tertera pada poster di depanku. Bening Embun Pagi. Tak salah lagi. Ini pasti Bening yang kukenal. Beningku. Tapi di sini dia disebut sebagai salah satu penulis muda Indonesia.

“Bening? Penulis? Sejak kapan?” batinku.

Aku berusaha mencari foto atau apapun yang bisa memperkuat asumsiku. Tapi tak ada. Hanya foto cover beberapa novel karya Re, yang aku tahu adalah salah satu penulis ternama Indonesia dan nama beberapa orang penulis muda yang tak terlalu kukenal, kecuali nama Bening. Kuamati lagi poster itu. Poster tentang workshop penulisan novel di sebuah kafe yang pernah kukunjungi dan diadakan oleh komunitas penulis mahasiswa Indonesia di Perth. Sepertinya Bening menjadi salah satu pengisi acaranya.

Aku membaca tanggal acaranya: 12 September. Dua minggu lagi. Haruskah aku datang? Siapkah aku bertemu Bening kalau benar ini orang yang sama dengan Bening yang aku kenal? Kalau dipikir-pikir, sudah lama sekali aku tidak bertemu Bening. Barangkali dia sudah berubah. Barangkali aku sudah berubah. Aku maju mundur dengan niatku.Sesampainya di rumah, aku bercerita tentang workshop itu ke Zach. Sudah sejak dulu dia bilang aku idiot karena tak pernah menunjukkan perasaan sukaku ke Bening. Ketika aku kembali ke sini dan dia tahu bahwa salah satu alasannya adalah karena Bening mengatakan bahwa dia mencintaiku tapi aku tak percaya, dia bahkan menyebutku super idiot.

I think it’s time for you to move on, mate. It’s been ages!” kata Zach padaku.

You should start seeing someone else,” katanya lagi.

Zach benar. Aku tak bisa selamanya terjebak masa lalu. Aku harus berani memulai langkah baru. Tapi bagaimana dengan perasaanku pada Bening?

Do you think I need to come?” tanyaku ragu.

Zach hanya mengangkat bahu. Ditenggaknya minuman ringan yang sedari tadi ada di tangannya.

“Kamu pernah enggak mikir bahwa mungkin keraguanmu atas perasaan Bening sebenarnya bersumber dari keraguanmu atas perasaanmu sendiri?” dia malah balik bertanya.

Maybe you don’t really love her, mate. Mungkin dulu kamu menyukainya karena for some reasons dia begitu menarik dan fakta bahwa dia tidak menyukaimu membuatmu penasaran sekaligus tertantang. Tapi lalu dia balik menyukaimu dan kamu jadi ketakutan sendiri karena kamu enggak yakin hubungan kalian bisa bertahan lama dan hurting her is the last thing you want to do, so you left,” tambah Zach panjang lebar.

Aku diam saja mendengar kalimat dari Zach. Antara kaget dengan Zach yang tiba-tiba jadi bijaksana dan kaget dengan rasa ragu atas perasaanku ke Bening yang tiba-tiba muncul. Jangan-jangan teori Zach benar. Jangan-jangan jauh di dalam hati ini, aku tidak benar-benar cinta sama Bening. Mungkin aku hanya jatuh cinta padanya karena dialah satu-satunya perempuan yang selalu ada di sampingku selama hampir satu dekade ini. Jangan-jangan aku sendiri tidak yakin bisa menjalani hubungan yang lebih dari sekedar persahabatan dengan Bening. Jangan-jangan benar bahwa aku takut suatu saat aku justru akan melukai sahabatku sendiri. Aku merasa tertohok. Apapun faktanya, aku memang harus memastikan terlebih dahulu perasaan apa yang sebenarnya kurasakan pada Bening. Dan mungkin itu bisa dimulai dengan menuruti nasehat Zach.

Okay, I’ll start seeing someone else,” kataku akhirnya.

Good for you,” kata Zach sambil mengangkat kaleng minumannya.

Tak lama setelah itu, Zach mengenalkanku pada seorang perempuan yang dia kenal dari Antonio. Namanya Mikhaela. Harus aku akui Mikhaela sangatlah menarik. Dia tidak hanya cantik, tapi juga pintar dan baik. Jujur aku senang melewatkan waktu bersamanya.

Satu hari aku baru saja pulang dari makan siang dengan Mikhaela saat kudapati Zach sedang duduk di teras depan dalam keadaan mabuk. Aku heran melihatnya dalam kondisi seperti itu. Tidak biasanya Zach mabuk. Siang-siang begini lagi. Dia meracau tidak jelas melihatku. Aku tak bisa menangkap kalimatnya. Aku baru mau melangkah untuk menghampiri Zach dan bertanya keadaannya saat Antonio melambaikan tangannya dari dalam rumah dan memberikan kode agar aku segera masuk ke dalam tanpa bertanya apa-apa kepada Zach. Aku menurut saja. Tercium bau khas bir saat aku melewatinya. Kecut seperti tape. Aku sendiri bukan penyuka bir. Rasanya tak terlalu cocok di lidahku.

Just leave him alone,” kata Antonio begitu aku masuk.

“Kenapa dia?” tanyaku.

“Patah hati. Bertengkar hebat dengan Andrea tadi pagi, lalu Andrea pergi. Move out,” jelas Antonio.

Poor Zach,” tambahnya lagi.

Aku menatap Zach yang masih duduk di teras depan. Kasian juga melihatnya. Jujur aku agak kaget mendengar bahwa Andrea tiba-tiba move out dari rumah ini, yang berarti pertengkaran mereka cukup serius. Selama ini kupikir mereka akur-akur saja. Kalaupun bertengkar palingan tak lama dan langsung bermesraan sesudahnya. Tapi sekarang? Move out? Wow, that must be really hard for Zach. 

Keesokan harinya, aku sedang menuang corn flakes ke dalam mangkuk saat Zach masuk ke dapur dengan tampang awut-awutan.

Feeling better, mate?” tanyaku padanya.

Yeah,” Zach menjawab pendek.

Aku tak berniat bertanya-tanya lagi. Kutambahkan susu dan potongan apel ke dalam mangkukku yang telah berisi corn flakes. Aku baru saja hendak menyuapkan satu sendok ke mulutku saat mendadak Zach bertanya:

“Kenapa pernyataan cinta itu selalu penting untuk perempuan?”

Aku bahkan belum sempat menjawab ketika Zach lalu menyerocos tentang kejadian kemarin siang. Saat Andrea memutuskan untuk keluar dari rumah ini.

Is it really important to say “I love you” every minute? Every second? Every day?” lanjut Zach.

Aku masih diam saja. Zach toh tak benar-benar membutuhkan jawaban. Dalam kondisi seperti ini dia cuma butuh didengarkan.

Just because she said she love me and I didn’t say it back, she was furious. She packed her stuffs and left,” lanjut Zach.

“Memangnya tidak cukup bukti bahwa aku suka padanya? Memangnya cinta hanya bisa ditunjukkan lewat kata-kata? Enggak kan?” katanya lagi.

Aku mengaduk-aduk cornflakes di mangkukku. Membiarkan saja Zach mengoceh semaunya.

“Perempuan itu rumit,” kata Zach setelah puas meracau.

Kali ini aku hanya tersenyum. Aku ingat dulu aku pernah mengatakan kalimat yang persis sama ke Bening. Gara-gara ingatan itu, aku tersadar bahwa besok adalah tanggal 12 September. Tanggal workshop yang sepertinya melibatkan Bening. Setidaknya begitulah yang kubaca di poster beberapa waktu yang lalu. Mulanya aku masih ingin datang ke workshop tersebut, tapi aku tak mau mendadak muncul dan membuat Bening tak nyaman atau semacamnya. Acara itu tentu sangat penting untuknya, aku tak mau menjadi tamu yang tak diharapkan. Lagipula, besok aku sudah ada janji dengan Mikhaela. Aku tak mungkin membatalkannya.

-Bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s