Circle Route: Kesempatan kedua

“Nah, ini dia orangnya. Sudah ditungguin dari tadi. Bening, kamu ke Perth bulan depan ya?” cerocos Tim, saat aku baru saja melangkah masuk ke ruangan kantor penerbitan yang menerbitkan novelku.

“Aku ke Perth? Bulan depan?” tanyaku heran. Tak langsung bisa memahami kalimat yang disampaikan Tim barusan.

“Iya, ada komunitas menulis di sana yang dibentuk oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di Perth. Nah, ceritanya Re diundang sebagai pembicara workshop. Kamu sama beberapa penulis muda yang lain diajak untuk terlibat di situ, jadi bagian dari tim mereka gitulah,” jelas Tim.

Aku masih bengong.

Don’t you realise how lucky you are?” kata Tim lagi sambil tergelak.Aku diam saja. Bukan pertanyaan Tim yang sebenarnya kupikirkan. Tapi mendengar kata Perth, mau tak mau aku jadi ingat Banyu lagi. Pertanda apakah ini? Apakah akhirnya aku akan bertemu kembali dengannya setelah sekian lama. Apakah dia masih Banyu yang sama? Apakah dia masih mengenaliku?

Perasaanku campur aduk. Dalam hati aku ragu bisa bertemu Banyu di sana. Bukankah Australia Barat adalah negara bagian terluas di Australia? Mustahil menemukan Banyu dengan mudah. Belum tentu Banyu tinggal di Perth. Mungkin dia tinggal di bagian lain Australia Barat. Belum tentu juga Banyu masih tinggal di Australia. Mungkin dia sudah pindah lagi. Entah kemana.

Tapi setidaknya ini sebuah peluang yang bagus buatku untuk kembali menemukan Banyu. Seperti yang Pak Is bilang, “Jodoh itu harus diperjuangkan.” Ini saatnya bagiku untuk memperjuangkan jodohku. Setidaknya, ini saatnya bagiku untuk mencari tahu apakah Banyu adalah jodohku. Aku merasa telapak tanganku mendadak berkeringat. Aku merasa gugup menerima kenyataan bahwa aku mungkin akan bertemu lagi dengan Bantu setelah sekian lama. Aku senang sekaligus takut. Aku tidak bisa mendefinisikan campuran beraneka ragam perasaan yang kurasakan saat ini.

“Yang dari kita, selain aku siapa yang ikut ke Perth, Tim?” tanyaku setelah bisa menguasai diri.

“Cuma kamu doang neng, biasa aja kali, situ kan sudah besar,” kata Tim cuek.

Mendadak aku panik. Aku belum pernah ke Australia sebelumnya. Aku bahkan belum pernah membuat aplikasi visa ke negara yang satu itu, yang dengar-dengar cukup rumit. Sejauh ini, pengalaman ke luar negeriku hanya Malaysia dan Singapura, dan sebagai orang Indonesia, aku tak perlu visa untuk pergi ke sana. Tapi ini Australia, negara bahkan benua yang sama sekali lain.

“Tenang, semuanya udah diatur sama managernya Re, lu tinggal datang, workshop, lalu pulang,” kata Tim seolah membaca kekhawatiranku.

Aku sedikit lega. Tapi tetap saja ada sedikit rasa khawatir yang tersisa. Khawatir kalau-kalau sesampainya aku di Perth, aku tetap tak bisa menemukan Banyu. Aku mencoba untuk tak peduli dan fokus pada fakta menyenangkan bahwa aku akan benar-benar ke Perth, sesuatu yang bahkan tak pernah berani kuimpikan sebelumnya.

-Bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s