Circle Route: Kembali ke Ibu Kota

17499052_10158537565015094_492522744216689902_nHari sudah petang saat aku tiba di Jakarta. Kakakku, Bara, yang menjemputku di bandara Cengkareng. Dia tampak senang begitu tahu bahwa aku berhasil menyelesaikan novelku. Dia juga memberitahuku sebuah kabar gembira. Wardah hamil. Sudah enam minggu. Artinya dalam hitungan bulan, Salma akan punya adik, yang berarti juga keponakan baru untukku. Aku ikut bahagia mendengar kabar dari Bara tersebut.

Bara mengantarku ke kos dan langsung pulang. Hamil kali ini, Wardah sedikit rewel. Makanya Bara tak bisa meninggalkannya lama-lama. Aku kembali ke kos lamaku yang sudah tiga bulan tidak kutinggali. Meskipun sedikit kotor dan berantakan, aku malas membereskannya. Aku memutuskan untuk mengganti sprei kasurku saja.

“Yang lain besok sajalah, capek,” gumamku sambil merebahkan diri di kasur.

Sebenarnya aku ingin langsung tidur. Aku sangat capek setelah menempuh perjalanan panjang tadi siang. Tapi sepertinya aku harus langsung menghubungi dua manusia yang paling menunggu kabarku saat ini: Kaila dan Tim. Kuraih ponsel dari saku celana jins.

“Beninggggg, apa kabar?” teriak Kaila dari seberang telepon.

“Baik, kamu?” aku balik bertanya.

Never better!” jawabnya agak mencurigakan.

Segera setelah itu Kaila memberitahuku bahwa dia akan menikah dengan pacarnya yang setahun lebih muda darinya dan bernama Raka. Mereka memang sudah dua tahun berpacaran. Wajar jika akhirnya mereka memutuskan untuk menikah. Tapi tak urung aku kaget juga mendengar kabar itu. Sepertinya baru kutinggal tiga bulan, tapi sudah banyak sekali hal-hal yang berubah. Kaila menikah. Wardah hamil. Dan itu sedikit membuatku iri. Orang-orang di sekitarku semua bergerak maju, sementara aku masih jalan di tempat, begitu-begitu saja.

“Ah, setidaknya aku berhasil menyelesaikan novelku. Bukankah itu satu kemajuan juga?” hiburku pada diri sendiri.

Tim sama bahagianya dengan Kaila saat mendengar suaraku. Bedanya, ekspresi kegembiraannya lalu diikuti serentetan kalimat instruksi mengenai novelku yang akan naik cetak. Apakah aku sudah punya ide soal desain sampul. Apakah aku punya foto yang cukup oke untuk ditampilkan di halaman profil. Apakah aku sudah membuat halaman persembahan. Dan seterusnya. Dan seterusnya.

“Aduh Tim, izinkan aku tidur nyenyak tanpa memikirkan novel malam ini saja,” kataku pelan dan tentu saja tak didengar oleh Tim.

Hari yang telah lama kutunggu akhirnya datang juga. Hari ini aku resmi jadi penulis. Novelku yang berjudul “Mengejar Senja” sudah resmi diterbitkan. Aku tak bisa menyembunyikan kebahagiaanku, meskipun agak khawatir juga jangan-jangan novelku tak laku di pasaran. Jangan-jangan tak ada yang sudi membacanya. Aku bahagia sekaligus cemas.

Saking bahagianya bisa menerbitkan novel, kadang aku dengan sengaja mengunjungi toko buku dan menemukan diriku sendiri terharu melihat bukuku di pajang di sana. Dulu, hal-hal seperti itu hanya ada di khayalku. Jadi ketika akhirnya itu menjadi kenyataan, reaksiku terlalu berlebihan.

“Atau mungkin akunya saja yang agak norak, hihihi,” aku tertawa dalam hati.

Di luar dugaan, kekhawatiranku tak beralasan. Novelku direspon cukup positif. Aku senang luar biasa. Begitu juga dengan Tim. Dia bahkan sudah mengagendakan serangkaian kegiatan untuk mempromosikan novelku. Tentunya bersama para penulis muda yang satu penerbit denganku juga. Dari mulai workshop menulis di kampus-kampus hingga membuat satu website khusus tentang novel kami juga membuat fan page di Facebook dan Twitter seolah kami ini artis saja. Kadang aku merasa risih dengan antusiasme Tim dalam menjual novelku, tapi ternyata strateginya terbukti ampuh. Pelan tapi pasti, angka penjualan novelku cukup lumayan. Aku makin mantap memilih penulis sebagai profesi tetapku.

Tim memang handal dalam urusan lobby melobby. Dalam waktu beberapa bulan aku berhasil terlibat dalam beraneka ragam kegiatan dengan penulis-penulis lain, yang tentunya sudah lebih ternama dan mapan dibanding aku. Dari situ, aku jadi bisa belajar langsung dari mereka.

Salah satu dari penulis itu adalah Re, novelis favoritku, yang bukunya sudah puluhan dan semuanya best seller. Buku-bukunya banyak menginspirasiku selama ini. Aku sendiri tak menyangka bahwa suatu hari aku akan bertemu dengannya secara langsung bahkan terlibat beragam kegiatan bersamanya. Karena sering bertemu itulah aku jadi lumayan dekat dengan Re. Dia banyak memberiku masukan sebagai penulis baru. Aku teramat sangat bersyukur bisa berteman dengannya.

Tanpa sadar aku makin tenggelam dalam kesibukan dunia baruku sebagai penulis. Aku terlalu sibuk, sampai-sampai aku tak ingat bahwa aku masih punya cerita cinta yang belum selesai. Cerita cinta dengan Banyu.

-Bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s