Circle Route: Beautiful Stranger

Hari itu Jumat. Persis dua minggu menjelang tenggat, dan aku berhasil merampungkan novelku. Aku menatap puas satu file utuh berisi novel yang ada di komputerku. Novel pertamaku. Akhirnya setelah perjuangan panjang, aku berhasil mewujudkan mimpi lamaku. Akhirnya aku bisa menyebut diriku seorang penulis. Aku tersenyum bangga. Segera kukabari Tim, editorku di Jakarta. Dia terdengar lebih bahagia daripada aku. Minggu depan aku akan kembali ke Jakarta dan mengurusi proses penerbitan. Sekarang saatnya aku tidur. Tidur yang nyenyak.

Aku benar-benar tidur sangat nyenyak sampai-sampai tak sadar matahari sudah tinggi kalau saja Bu Is tidak mengetuk kamarku perlahan.

“Mbak, mbak Bening, bangun Mbak, ini ada telepon dari Jakarta,” kata Bu Is.

Aku membuka kamar dengan muka bantal yang masih awut-awutan. Malu di depan Bu Is yang pasti sudah menyelesaikan pekerjaannya jam segini. Bu Is menyodorkan ponselku. Tanpa sengaja aku sudah meninggalkan teleponku itu, yang pasti berisik dari pagi, di meja ruang tamu.

“Makasih Bu, maaf saya lupa naruh ponsel sembarangan,” kataku enggak enak.

“Enggak apa-apa mbak, Mbak Bening kan habis lembur, pasti capek,” kata Bu Is tulus.

Aku jadi tambah malu. Segera kuraih handuk dan menuju kamar mandi. Banyak yang harus dilakukan hari ini. Mengepak barang-barangku lalu menikmati hari-hari terakhirku di desa ini sebelum pamitan ke Pak Is sekeluarga. Sekilas kulirik daftar panggilan tak terbalas yang seperti sudah kuduga sebelumnya, berasal dari Tim. Aku memutuskan untuk tak langsung menelpon balik. Nanti saja.

“Minggu depan saya balik ke Jakarta, Pak Is,” kataku waktu kami duduk menikmati teh dan gorengan bersama-sama di dapur.

Walah, kok cepat sekali mbak Bening, novelnya sudah selesai ya mbak?” tanyanya.

“Iya Pak, makanya saya harus buru-buru balik,” kataku.

“Tapi saya mau jalan-jalan dulu muter-muter Kewuru Pak, dari kemarin saya belum sempat kemana-mana, boleh kan Pak?” tambahku.

“Oh ya boleh banget mbak, memangnya mbak Bening mau kemana tho?” tanya Pak Is dengan logat Jawa yang khas.

“Saya mau ke pasar Pak, mau mencoba mie ayam paha yang katanya enak itu,” jawabku.

“Sama mau ke pantai dan ke sungai bawah tanah yang di dekat pasar itu Pak,” tambahku lagi.

“Oh ya nanti biar diantar Tini. Mbak Bening kan belum tahu jalan dan jalur bisnya,” kata Pak Is menyebut nama anak perempuannya yang tertua yang baru berusia 15 tahun dan harusnya duduk di kelas satu SMA.

Sayangnya biaya sekolah yang mahal membuat dia memutuskan untuk bekerja di pabrik gaplek atau singkong kering di dekat kantor kecamatan. Dengar-dengar dia malah akan menikah dalam waktu dekat. Mungkin dalam 1-2 tahun ke depan.

Aku sendiri sudah sering bertemu dengan pacarnya yang bernama Supri saat dia berkunjung ke rumah. Tampaknya dia orang baik dan mereka juga sudah berpacaran sejak kelas satu SMP. Mungkin Pak Is merasa tidak pantas terlalu lama menahan keinginan mereka untuk menikah. Di sini, anak perawan terlalu lama jalan bersama laki-laki yang bukan saudaranya gampang menjadi gosip dan fitnah. Menikah menjadi solusi yang dirasa tepat. Meskipun itu di usia yang masih relatif muda.

Mengenal Tini membuatku merasa hidup ini kadang tak adil padaku. Tini yang baru 15 tahun, sudah menemukan jodohnya dan akan segera menikah. Sementara aku, yang bulan depan akan berusia 25 tahun, masih single, dan bahkan belum menunjukkan tanda-tanda sudah menemukan jodohnya. Jangankan calon suami, pacar saja aku tak punya.

“Tin, nduk, besok minggu temenin mbak Bening ke Pasar Kliwon ya,” kata pak Is saat Tini lewat.

Nggih (Iya) Pak,” jawab Tini sopan.

Aku tersenyum ke Tini. Dia sebenarnya cantik. Sayang hidup yang keras membuatnya tampak kumal dan lusuh. Padahal kalau mau merawat diri, dia bisa tampak cantik dan menarik. Tak kalah dari model yang berpose di majalah-majalah remaja itu. Melihat Tini dalam pakaiannya yang seadanya membuatku berpikir bahwa hidup ini ternyata tak hanya tak adil padaku. Tapi pada Tini juga. Atau justru hidup itu sebenarnya sangat adil? Tini tak mampu sekolah atau beli pakaian dan kosmetik untuk merias diri tapi dia sudah menemukan laki-laki yang mau menerima dia apa adanya. Sementara aku mungkin belum menemukan jodohku, tapi berdandan dan sekolah bukanlah hal yang sulit untukku. Barangkali semua memang ada kurang dan lebihnya. Tak seharusnya aku sibuk menghitung nikmat orang lain dan lupa pada rejekiku sendiri. Tiba-tiba aku merasa bijaksana sekali. Hahaha.

Hari Minggunya, ditemani Tini aku pergi ke Pasar Kliwon. Pasar tradisional yang penuh sesak dengan orang-orang yang bertransaksi jual-beli. Ternyata banyak kenalan Tini di pasar itu. Beberapa orang menyapanya dengan ramah. Beberapa yang lain menatapku dengan heran. Mungkin wajahku agak asing untuk mereka yang sudah kenal hampir semua orang di desa ini.

“Sopo kuwi, Tin? (siapa itu Tin?),” tanya seorang tukang ojek yang mangkal di depan pasar kepada Tini.

“Kancaku (temanku),” kata Tini pendek.

“Uayuneeeee, kenalke Tin (cantiknyaaaa, kenalin Tin),” kata tukang ojek itu lagi.

Aku tersenyum simpul. Sudah lama rasanya tidak ada yang bilang aku cantik. Dipuji begitu membuatku senang, meskipun pujian itu datang dari seorang tukang ojek yang tidak kukenal.

“Hush,” kata Tini menunjukkan ekspresi tidak suka ke si tukang ojek.

Tini lalu mengajakku mempercepat langkah.

“Maaf ya mbak, si Yanuar emang suka gitu orangnya,” kata Tini padaku.

Ternyata tukang ojek itu namanya Yanuar.

“Engak apa-apa Tin, aku seneng kok dibilang cantik, hehehe,” kataku padanya sambil tersenyum.

Tini ikut tersenyum.

Setelah menyusuri lorong-lorong pasar yang panjang, sampailah kami ke warung mie ayam paha Kondang Jaya yang tenarnya sampai di telingaku lewat obrolan Tini dengan teman-temannya. Juga bisik-bisik tetangga samping kanan kiri rumah Pak Is. Sudah lama aku penasaran dengan mie ayam paha yang sering disebut-sebut itu. Emang seberapa enaknya sih sampai-sampai setiap orang selalu makan di situ. Bahkan merayakan hari spesialnya di warung makan itu. Seperti Tini yang mengaku jadian dengan Supri di warung itu juga. Warung ini sudah seperti warung favorit sekaligus kebanggaan warga Kewuru. Tak heran jika setiap hari, warung ini selalu penuh pengunjung. Beruntung siang itu belum persis jam makan siang. Jadi warung masih sedikit sepi, meski tak banyak juga tempat duduk yang tersisa.

Kami duduk di bangku paling belakang. Sengaja memilih tempat duduk itu karena mau berlama-lama di sana. Tini bilang itu tempat duduk paling enak karena menghadap jendela. Kita bisa makan sambil menikmati pemandangan pasar di luar. Aku mengangguk-angguk saja. Sedikit curiga bahwa alasan yang sebenarnya adalah tempat duduk itu tempat favorit Tini karena di situlah dia jadian dengan Supri. Tapi aku menurut saja, sama sekali tak keberatan. Lagipula perutku sudah keroncongan. Dan aku sudah sangat tidak sabar untuk menjajal mie ayam paha ala Kondang Jaya.

Dua mangkuk mie ayam paha pesanan kami diantar oleh bapak penjual yang ternyata adalah ayahnya teman SMP Tini. Aku makin merasa desa ini sempit sekali. Hampir semua orang saling mengenal.

Monggo (silahkan) mbak,” begitu katanya padaku.

Aku menatap mie ayam paha itu dengan nanar. Memang kelihatannya lezat sekali. Mienya kuning dan kenyal. Berbeda dengan mie ayam yang biasanya hanya ditaburi sedikit potongan ayam di atasnya, mie ayam yang satu ini bertopping paha ayam yang utuh kecoklatan dan tampak sangat lezat. Ditambah hijau daun sawi dan taburan bawang goreng yang seperti memanggil-manggil untuk segera disantap. Rasanya tak sabar untuk segera melahapnya.

“Slurp,” aku menelan suapan pertamaku.

Mau tak mau aku terkejut. Rasanya memang nikmat sekali. Mienya pas. Ayamnya pas. Semuanya pas.

Oh dear, I’m in heaven,” batinku lebay sambil mengunyah.

“Mbak, Mbak Bening, Mbak Bening kenapa?” tanya Tini khawatir melihatku terhipnotis oleh kelezatan mie ayam paha yang sedang kusantap.

“Hehe, enggak kenapa-kenapa kok Tin, ini mie ayamnya enak banget,” kataku sambil tersenyum malu.

“Oh,” Tini tersenyum lega lalu melanjutkan makan.

Aku sendiri kembali sibuk dengan mie ayam di depanku. Ternyata memang benar omongan orang di desa Pak Is. Mie ayam ini nikmat sekali. Belum pernah aku mencicipi mie ayam seenak ini. Sesekali aku mendesah kepedesan. Selain enak, sambal di warung ini juga mantap. Aku merasa beruntung sempat mencicipi mie ayam paha ini sebelum kembali ke Jakarta minggu depan.

Tiba-tiba seorang pria berambut ikal dan bertopi hitam masuk ke warung tempat kami makan sambil menenteng gitarnya. Dia bercakap-cakap dengan si pemilik warung yang sepertinya meminta dia untuk melakukan sesuatu yang entah apa. Awalnya si pria berambut ikal itu tampak menolak tapi setelah si pemilik warung memohon, dia mengangkat gitarnya lalu mulai memainkan intro lagu Bunga di Tepi Jalan milik Koes Plus. Rupanya si pemilik warung meminta laki-laki itu bernyanyi. Barangkali dia seorang pengamen. Para pengunjung termasuk Tini, langsung bertepuk tangan dengan riuh. Permainan gitarnya memang bagus. Jemarinya tampak lincah berpindah dari satu senar ke senar yang lain. Lalu dia pun mulai bernyanyi.

Suatu kali kutemukan

Bunga ditepi jalan

Siapa yang menanamnya

Tak seorangpun mengira

Bunga ditepi jalan

Alangkah indahnya

Oh..kasihan

Kan kupetik

Sebelum layu

Suaranya bening dan merdu. Aku terbius. Ikut menyanyikan lagu di sela-sela menikmati mie ayamku yang hampir habis. Tini juga tampak menikmati lagu tersebut. Kepalanya terangguk-angguk ke kiri dan ke kanan mengikuti nada.

Selesai bernyanyi, orang-orang kembali bertepuk tangan dengan riuh. Tapi bukannya meminta uang kepada para pengunjung, laki-laki tersebut justru melepas topinya dan membungkuk untuk memberi hormat. Saat itulah aku sedikit terkejut. Dia cukup ganteng untuk ukuran pengamen jalanan (meskipun aku tidak yakin dia pengamen karena dia toh tidak meminta uang). Rambutnya yang ikal dan jenggotnya yang tipis sekilas membuatnya mirip dengan Reza Rahardian, aktor muda dan ganteng yang lagi naik daun itu. Aku jadi sedikit penasaran. Siapa dia? Bukan Reza Rahardian beneran yang lagi syuting sinetron kan? Aku celingak celinguk mencari kamera tersembunyi atau apa. Tapi tak ada.

“Berarti bukan Reza Rahardian,” batinku.

Lagian tidak mungkin Reza Rahardian sampai Kewuru. Untuk syuting sekalipun. Bukannya apa-apa, tapi desa ini sepertinya terlalu jauh untuk dijangkau industri hiburan Jakarta. Aku menatap ke luar jendela sambil tersenyum sendiri. Orang-orang di pasar masih riuh bertransaksi dan berlalu lalang.

Aku masih asyik mengamati orang-orang di pasar saat penyanyi yang mirip Reza Rahardian itu tiba-tiba saja sudah berdiri di samping meja kami. Tanpa permisi, dia duduk di satu kursi di depan Tini dan memesan mie ayam ke Bapak penjual. Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetku. Baru saja aku mau bertanya kenapa dia duduk di situ sementara ada bangku lain yang kosong, dia lebih dulu berkata:

Wis suwe (udah lama di sini), Tin?”

Aku makin kaget. Jadi laki-laki yang satu ini juga kenal Tini. Ini Tininya yang terkenal atau desa ini yang penduduknya terlalu sedikit? Tapi mengingat Tini yang sebenarnya cukup cantik, wajar sih kalau dia terkenal. Mungkin Tini adalah semacam kembang desa di sini.

Dereng mas, nembe mawon (belum mas, baru aja),” jawab Tini dengan bahasa Jawa halus yang biasanya hanya digunakan untuk berbicara pada orang yang lebih tua atau orang yang disegani.

“Oh iya Mas, kenalin ini Mbak Bening. Mbak Bening ini penulis dari Jakarta. Udah tiga bulan ini tinggal di rumah saya,” kata Tini memperkenalkanku yang masih kebingungan siapa gerangan laki-laki yang tampangnya mirip Reza Rahardian ini.

“Bagas,” ujarnya sambil mengulurkan tangan.

Lagi-lagi aku terkejut. Bagas bukanlah nama yang lazim di desa ini. Setahuku.

“Bening,” balasku akhirnya.

Sesaat mata kami bertemu dan aku merasa dadaku sedikit berdesir. Oke, laki-laki ini mungkin bukan Reza Rahardian, tapi dia benar-benar ganteng. Aku jadi agak salah tingkah. Buru-buru kuraih gelas minuman untuk mengatasi gejolak perasaan yang mendadak muncul.

Bagas lalu asyik menyantap mie ayam paha pesanannya. Mie ayamku sendiri sudah habis. Sementara Tini masih berusaha mengahabiskan paha ayam yang sengaja dia makan paling belakang. Save the best for the last. Mungkin begitu prinsip Tini.

“Kalian mau ke mana habis ini?” tanya Bagas yang tiba-tiba saja sudah menandaskan makanannya.

Aku heran. Cepat sekali makhluk yang satu ini menyelesaikan makanananya. Dia jadi mirip Banyu. Duh Bening, berhenti mengingat Banyu kenapa sih. Aku belum sempat membuka mulut saat Tini menjawab:

“Mau ke sungai bawah tanah Mas, trus ke pantai. Mbak Bening pengen muter-muter Kewuru, soalnya lusa sudah mau balik ke Jakarta.”

Aku merasa Tini memberikan terlalu banyak informasi pada laki-laki yang baru aku kenal ini. Aku tak suka sebenarnya. Tapi terlambat. Tidak ada yang bisa dilakukan sekarang. Jadi aku diam saja.

“Boleh ikut?” tanya Bagas lagi, kali ini sembari menatapku. Tajam.

Sial, ditatap seperti itu aku gugup. Dadaku berdesir lagi. Aku hanya sanggup mengangkat bahu untuk menunjukkan bahwa aku tak keberatan.

Bertiga kami lalu beranjak dari warung mie ayam paha Kondang Jaya. Aku menghampiri si Bapak penjual untuk membayar pesanan kami.

“Mie ayam dua, es teh dua, berapa Pak?” tanyaku sambil mengeluarkan dompet.

“Enggak usah mbak, enggak usah bayar, hari ini gratis buat mbak, wong (orang) Tini itu temannya anak saya kok,” jawabnya.

Aku melongo. Gratis? Hari gini masih ada yang gratis? Untuk mie ayam paha seenak ini? Aku merasa enggak enak hati.

“Jangan Pak, nanti yang saya makan enggak jadi daging,” kataku beralasan sambil berusaha menjejalkan uang ke tangan bapak penjual mie ayam.

“Enggak apa-apa mbak, beneran, nanti mbak cerita saja sama temen-temen mbak di Jakarta kalau mbak pernah makan di sini, itu sudah cukup,” dia tetap menolak.

Aku masih berusaha memaksa. Tapi bapak si penjual lebih ngotot dari aku. Akhirnya aku mengalah. Hari ini aku makan mie ayam yang menurutku paling enak sedunia dan gratis. Ternyata masih ada kebaikan di dunia ini.

Aku, Tini dan Bagas lalu menyusuri setapak menuju sungai bawah tanah yang terletak tidak terlalu jauh dari Pasar Kliwon. Hanya satu kilometer. Di luar dugaanku, jalannya ternyata tak terlalu mulus. Tini bilang sungai bawah tanah itu memang sudah lama tidak digunakan. Jadi kondisinya tidak terawat. Beruntung aku memakai sepatu kets jadi kakiku tidak terlalu tersiksa. Tapi satu kilometer ternyata cukup berat untukku yang sudah lama tidak berolahraga.

Sungai bawah tanah ini terletak di dalam goa. Kami harus menuruni tangga terlebih dulu untuk bisa melihat bagian sungai yang muncul di permukaan. Hanya beberapa meter bagian dari sungai itu yang bisa dilihat, selebihnya masuk lagi ke dalam tanah, menuju Samudra Hindia.

Sampai di sungai bawah tanah aku ngos-ngosan. Tini tampak sedikit khawatir. Takut aku kenapa-kenapa. Sementara Bagas hanya tersenyum-senyum simpul melihatku kepayahan. Aku berusaha tak peduli dan langsung menyibukkan diri menikmati sungai bawah tanah yang sudah lama ingin kulihat itu.

Kalelawar berterbangan begitu kami masuk. Tini benar. Tampak jelas bahwa sungai ini sudah lama tidak dimanfaatkan. Kondisinya sama sekali tidak terawat. Bagas bilang sebenarnya dulu pernah ada kerjasama dengan pemerintah Jerman untuk mengangkat air dari sungai bawah tanah ini ke permukaan dan memenuhi kebutuhan air penduduk Kewuru yang memang sering kesulitan air di musim kemarau. Tapi entah mengapa, kerjasama itu tak berlanjut, dan sungai bawah tanah ini kian terbengkalai. Kondisinya makin diperparah oleh gempa yang mengguncang Jogja di akhir Mei 2006 yang membuat sebagian batu-batuan di mulut goa lepas dan berserakan.

Aku takjub mendengar penjelasan Bagas yang runtut. Bagas terdengar sangat berpengetahuan dan terpelajar. Atau mungkin dia memang terpelajar? Memangnya orang desa enggak boleh pinter? Aku membuang jauh-jauh pikiran sempitku itu.

Aku menatap sungai yang bergemericik di depanku dengan prihatin, dan berandai-andai, kalau saja kerjasama dengan pemerintah Jerman berlanjut, barangkali kondisinya tidak seperti ini.

“Mbak, ayo mbak, nanti ketingalan bus,” kata Tini membuyarkan andaianku.

Aku mengikuti langkah kakinya yang yakin dan lincah meski hanya beralas sandal jepit. Kami lalu menuju terminal untuk mencegat bus ke arah Pantai Kewuru. Sudah lama sekali aku tidak ke pantai. Terakhir sepertinya waktu bersama Banyu. Saat aku curhat tentang Jembar. Sebenarnya itu baru tahun kemarin, tapi rasanya sudah lama sekali.

-Bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s