Circle Route: Cerita Bening (Bagian Tiga)

 

Diburu Tenggat

“Banyu?”.

“Kamu Banyu, kan?” tanyaku.

Tapi laki-laki yang kutemui itu tampak kebingungan. Menatapku heran dan segera berlalu tanpa menjawab pertanyaanku.

“Banyu, tunggu!” kataku berusaha mengejarnya.

Tapi dia bergerak terlalu cepat. Aku berusaha mempercepat langkahku, tiba-tiba ‘duk’,” aku terantuk batu lalu terjatuh.

“Aduh,” aku mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap jidatku yang terantuk meja.

Layar komputer di depanku berpendar-pendar menyilaukan mata. Rupanya aku ketiduran di depan komputer. Dan lagi-lagi bermimpi tentang Banyu.

Kulirik jam di pergelangan tanganku. Jam 12 malam lewat 24 menit. Pantas saja sudah sepi begini. Hanya suara jengkerik dan anjing yang melolong di kejauhan yang membuat desa ini masih tampak hidup. Pak Is sekeluarga pasti sudah tidur. Begitu juga sebagian besar penduduk di desa ini. Hidup mereka yang sederhana membuat mereka tidur lebih cepat, sekaligus bangun lebih awal. Tidak seperti aku yang biasa melek hingga jam tiga pagi tapi mendengkur hingga siang.

Aku melangkah menuju dapur. Segelas teh panas sepertinya bisa membuatku merasa lebih baik. Aku butuh penenang. Dan bagiku, tak ada penenang yang lebih baik dari segelas teh panas. Selesai kuseduh, aroma teh melati merebak memenuhi ruangan. Membuatku merasa tenang dan nyaman. Aromatherapy yang paling efektif untukku. Aku memang pecandu teh sejak kecil. Setiap kali penat atau pusing, secangkir teh bisa menjadi penawar paling manjur untukku. Membuatku merasa lebih baik. Saudara dan teman-temanku sudah sering mengingatkan bahwa tak baik mengonsumsi terlalu banyak teh. Apalagi yang bergula banyak seperti yang sering kubuat. Tapi aku yang bebal tentu saja hanya menganggap nasehat-nasehat itu sebagai angin lalu. Untungnya sampai sekarang aku sehat-sehat saja. Tak ada tanda-tanda aku terkena penyakit karena terlalu banyak mengonsumsi teh.

Banyu jelas tahu kebiasaanku minum teh. Dia juga kerap menasehatiku tentang kebiasaanku ini yang biasanya bisa dengan segera kumentahkan karena dia sendiri adalah pecandu kopi. Akhirnya dia tak banyak protes. Menerima fakta bahwa aku bisa minum teh lebih dari tiga cangkir besar sehari. Sesama pecandu harus saling menghormati, mungkin begitu kesepakatan tanpa kata yang ada di antara aku dan Banyu. Ah Banyu lagi, Banyu lagi. Aku memukul kepalaku sendiri. Berusaha menghilangkan bayangan Banyu yang seperti hantu di kepalaku.

Tapi sebenarnya, wajar juga sih aku tidak benar-benar bisa melupakan Banyu karena toh segala hal yang kutulis di novel ini adalah tentang kami. Tentang dia. Mungkin aku tak ubahnya ratu drama yang diam-diam menikmati rasa sakit ini. Mungkin aku tak benar-benar ingin melupakan Banyu.

Aku kembali ke kamar lalu duduk menatap layar monitor di depanku. Mencoba merangkai kalimat demi kalimat. Sesekali kusesap teh manis di gelasku. Rasa pahit sekaligus manis dari teh dan gula yang terasa di lidahku sesaat mengingatkanku pada cerita dari novelku sendiri. Mungkin memang cinta selalu seperti itu. Mungkin seperti teh, cinta itu akan selalu terasa pahit dan manis sekaligus. Tidak cuma pahit saja atau hanya manis saja, melainkan campuran keduanya.

Aku makin tenggelam dalam cerita novelku. Entah kenapa tiba-tiba banyak inspirasi yang muncul. Beberapa jam kemudian, aku mendengar ayam-ayam Pak Is berkokok pertanda pagi mulai menjelang. Disusul dengan bunyi dari dapur yang mengindikasikan bahwa Bu Is sudah bangun dan mulai beraktivitas. Aku terus mengetikkan kata demi kata, lalu kusadari bahwa alur cerita yang kususun mulai mencapai klimaks. Penghitung angka di file komputerku juga mulai menunjukkan bahwa ending novelku sudah dekat. Aku merasa senang. Now I can see the finish line.

– Bersambung –

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s