Circle Route: Cerita Bening (Bagian Dua)

Awal Baru

Sejak aku tahu fakta tentang Banyu dari Puja, aku merasa hidupku limbung. Makan tak enak. Tidur tidak nyenyak. Aku tak bersemangat menjalani hari. Berangkat ke kantor pun ogah-ogahan. Kian hari aku merasa hidupku makin berantakan. Aku benar-benar harus melakukan sesuatu. Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Kantor ini sudah semakin menyesakkan buatku.

“Trus kamu mau ngapain Bening?” tanya Kaila, satu dari sedikit teman baikku di kantor saat aku memberitahunya tentang rencana pengunduran diriku.

“Aku mau nulis buku Kai. Itu cita-citaku dari dulu,” jawabku.

Kaila tampak kebingungan.

Aku tahu menjadi penulis bukanlah profesi favorit di negara ini. Menurut beberapa orang malah tidak terlalu menjanjikan. Apalagi dengan posisiku sebagai pendatang baru. Belum pernah menerbitkan buku apapun. Hanya sekali dua kali pernah mengirimkan karya ke majalah-majalah. Itupun bertahun-tahun lalu. Peluangku sangat tipis. Tapi bukan berarti tak ada. Apalagi aku merasa bahwa profesi yang sebelumnya kutekuni bukanlah passionku. Buktinya, meskipun sudah kujalani bertahun-tahun, aku masih merasa ada yang kurang di dalamnya. Itu membuatku berpikir ulang tentang apa yang sebenarnya kuinginkan. Dan itu jelas bukan menghabiskan lebih dari sepuluh jam hidupku di kubik kecil ini setiap harinya.

Sesungguhnya, aku selalu ingin menjadi penulis. Sejak aku bisa menyebutkan dengan lancar cita-citaku, aku selalu berkata pada orang-orang bahwa aku akan menjadi penulis saat besar nanti. Hingga kuliah, aku masih aktif menulis. Sekedar menuliskan kisah-kisah yang tak selesai di buku harianku yang usang. Kadang mengirimkannya ke malajah-majalah, meski hanya dimuat sekali dua kali. Mungkin itu sebabnya aku banting setir menjadi pekerja kantoran. Yang terlalu sibuk bahkan untuk berimajinasi. Mungkin dalam hati aku merasa tak benar-benar bisa menulis. Menulis sebuah cerita yang layak dibaca dan dinikmati orang lain. Tapi apa yang terjadi di hidupku belakangan ini membuatku benar-benar merasa sudah saatnya aku memulai hal yang benar-benar baru.

Terlalu banyak kenangan di kantor ini. Tentang Jembar. Dan terutama tentang Banyu. Nama pria itu sampai sekarang masih melekat kuat. Laki-laki yang dulu selalu ada untukku. Laki-laki yang katanya mencintaiku tapi justru pergi disaat aku mengatakan bahwa aku mencintainya. Tanpa penjelasan apapun. Ah, benar-benar terlalu banyak kenangan tentang dia di kantor ini. Aku harus move on. Dan barangkali melanjutkan mimpiku yang tertunda adalah sebuah permulaan yang bagus untuk sebauh hidup yang baru. Awal yang baru.

“Ya sudah kalau itu maumu, I just can wish you a good luck,” kata Kaila padaku.

Aku tersenyum. “I will need heaps of lucks,” batinku.

Selesai berbincang dengan Kaila, kuserahkan surat pengunduran diriku kepada bosku di kantor. Dia tampak terkejut. Aku bukan sejenis pegawai yang terlalu menuntut, ambisius atau semacamnya. Selama ini kerjaku juga relatif baik. Jadi wajar jika dia lumayan terkejut dengan keputusanku. Beruntung dia bisa memahami dan justru mengapresiasi keberanianku. Menurutnya aku masih muda. Belum terikat. Jadi masih banyak kesempatan yang bisa aku raih tanpa terlalu banyak pertimbangan. Aku lega mendengarnya.

Follow your passion,” ujarnya sesaat sebelum aku menutup pintu ruangannya.

Aku hanya tersenyum, lalu menghela nafas panjang begitu membalikkan badan. Hari ini, babak baru dalam hidupku resmi dimulai.

Setelah Kaila, orang kedua yang kuberi tahu pengunduran diriku adalah Bara, kakakku satu-satunya.

“Kamu sudah mantap dengan keputusanmu?” tanyanya saat aku bilang bahwa aku ingin jadi penulis.

Dari nada bicaranya, aku bisa membaca bahwa dia setengah berharap aku akan berkata “belum”. Tapi keputusanku sudah bulat. Maka akupun mengangguk.

Bara hanya diam. Dia tahu benar tak ada gunanya melarang keputusan yang toh sudah kubuat. Sebagai satu-satunya anggota keluarga yg kupunya, dia paham sekali dengan watakku yang keras kepala. Susah untuk berkompromi dan bernegosiasi. Kalau sudah punya mau terhadap sesuatu, aku pantang ditentang. Dari dulu Bara sudah tahu.

Bara barangkali juga sudah kapok menasehatiku. Seperti dulu saat dia tahu aku menjalin hubungan dengan Jembar, seorang pria yang sudah beristri, Bara marah luar biasa. Dia menghujaniku dengan beraneka ragam nasehat untuk membuatku meninggalkan Jembar. Tapi aku bergeming. Hingga akhirnya dia menyerah. Sejak itu, dia tak pernah benar-benar berusaha mengubah pendirianku atas apapun. Suatu hal yang diam-diam kusyukuri dalam hati. Memiliki kakak yang tak mengatur hidupmu adalah anugerah. Setidaknya begitu menurutku.

“Mau nulis apa kamu, Bening?” katanya setelah kami terdiam cukup lama.

“Novel,” kataku pendek.

Kali ini Bara tersenyum.

“Jangan bilang novel roman,” katanya lagi setengah tertawa.

“Hehehehe,” aku hanya terkekeh.

Bara juga tahu dari dulu aku suka menulis yang romantis-romantis. Bahkan aku punya kumpulan puisi cinta yang sengaja kucetak dan kujilid jadi satu menyerupai buku. Jadi dia tak benar-benar butuh jawabanku.

Meskipun bersaudara kandung, aku merasa Bara dan aku tak punya kemiripan. Sifat kami justru sangat bertolak belakang. Bara sangat tenang, sementara aku meletup-letup. Hidupnya juga lurus-lurus saja: kuliah, kerja, menikah, punya anak. Berbanding terbalik denganku yang hidupnya naik turun seperti roller coaster di Dufan: kuliah, kerja, memacari suami orang, putus, jatuh cinta sama sahabat sendiri, ditinggal pergi lalu sekarang keluar dari pekerjaan dan memutuskan menjadi penulis: profesi yang susah dikategorikan ketika membuat SIM atau KTP. Tapi mungkin justru itu yang membuat kami saling melengkapi. Menginspirasi. Diam-diam aku selalu berdoa agar suatu hari nanti aku juga bisa memiliki kehidupan yang sederhana tapi membahagiakan seperti Bara.

Selesai membahas kabar pengunduran diriku, Bara lalu berbagi kabar tentang keluarganya. Dia bilang istri dan anaknya baik-baik saja. Aku lalu berjanji padanya untuk berkunjung ke rumah mereka pekan depan. Sudah lama aku tidak bertemu kakak ipar dan ponakanku itu.

“Bening apa kabar? Lama banget enggak ketemu,” sapa Wardah, kakak iparku yang membukakan pintu saat aku main ke rumahnya.

“Baik Kak,” jawabku sambil tersenyum.

Lalu kamipun saling berpelukan.

“Ayo masuk,” katanya ramah.

Aku bergegas masuk dan mendapati Bara tengah duduk di ruang makan bersama Salma, keponakanku yang baru berumur lima tahun.

“Tanteeeeeee,” begitu melihatku Salma langsung lari untuk memelukku.

“Salma kangen, Tante Bening,” katanya.

Kami memang sudah lama sekali tidak bertemu. Wajar kalau dia kangen. Aku kan satu-satunya tante yang dia punya dan hobi membacakan cerita untuknya. Aku juga kangen banget sama keponanakanku yang centil ini.

“Tante juga kangen banget sama Salma,” kataku.

“Langsung makan aja, Bening” ajak Bara.

Aku tak menolak. Masakan Wardah terkenal enak. Dan sudah lama aku tidak memakan makanan rumah. Aku yang hobi jajan ini lebih sering makan di warung. Salahkan pada ketidakakhlianku dalam hal dapur dan memasak. Salma menggandengku ke meja makan. Kami lalu duduk berjejeran. Berhadapan dengan Bara dan Wardah.

“Salma, tante Bening bakal jadi penulis lho sebentar lagi,” kata Wardah sambil menuangkan sayur ke piring makan Bara.

Sepertinya Bara sudah bercerita tentang rencanaku ke Wardah.

“Iya Tante?” tanya Salma padaku.

Matanya berbinar. Tampak senang dan bangga.

“Iya,” jawabku sambil tersenyum.

“Wah, nanti Salma diceritain cerita-ceritanya Tante ya,” kata Salma lagi.

Aku hanya mengangguk. Seandainya Salma tahu bahwa calon novelku ini tidaklah berisi dongeng indah macam Cinderella yang sering dia baca. Seandainya Salma tahu bahwa novelku ini penuh luka dan sepertinya tak akan berakhir dengan indah. Tapi jelas saja tak bisa kusampaikan itu pada Salma, keponakanku satu-satunya. Biarlah dia tetap mengira bahwa cinta selalu ceria dan berakhir bahagia.

Selesai makan, aku membantu Wardah mencuci piring lalu menyusul Bara ke ruang tengah. Dia sedang asyik membaca majalah. Entah majalah apa.

“Lusa aku ke Jogja Kak,” kataku padanya.

Bara mengalihkan perhatiannya dari majalah ke aku.

“Ngapain?” tanyanya heran.

“Aku mau nulis novelku di sana. Kayaknya aku butuh suasana baru,” jawabku.

“Sudah dapat tempatnya kok, kemarin dibantuin Kaila,” tambahku buru-buru saat melihat ekspresi ketidaksetujuan di muka Bara.

Bara mungkin memang tak suka mengaturku, tapi sebagai seorang kakak, wajar kalau dia sedikit protektif dan gampang khawatir.

“Oh, oke, hati-hati,” kata Bara akhirnya.

Aku mengangguk mengiyakan.

“Ngomong-ngomong, temenmu si Banyu itu kok sudah lama enggak kelihatan?” tanya Bara tiba-tiba.

Aku sedikit terkejut, tapi bisa menguasai diri dengan cukup baik. Bara memang kenal Banyu dengan baik. Dia bahkan sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Kadang dia malah dengan sengaja “menitipkanku” ke Banyu dan memintanya untuk menjagaku seolah aku ini anak kecil saja. Sebenarnya aku ingin menjawab: “I don’t know, I haven’t met him for ages,” tapi yang keluar dari mulutku justru kalimat yang sama sekali lain: “Iyah, lagi sibuk.”

Bara tampak tak puas. Tapi tak tertarik untuk bertanya lebih jauh. Diam-diam aku bersyukur. Bara tak perlu tahu apa yang terjadi antara aku dan Banyu. Biarlah itu jadi rahasia segelintir orang saja.

“Tante, main yuk,” ajak Salma yang tiba-tiba saja sudah disampingku.

Tentu saja aku menerima ajakan keponakanku itu. Salma lalu menunjukkan buku-buku barunya padaku. Juga lukisan-lukisan yang dia buat. Selain menggemari buku, keponakanku ini juga suka melukis. Lukisannya cukup bagus untuk anak yang baru berusia lima tahun.

“Ini lukisan Salma yang paling baru Tante,” katanya sambil menyodorkan satu lukisan kepadaku.

“Ini Papa, Mama, Salma, Tante Bening dan Om Banyu,” katanya lagi sambil menunjuk lima orang di dalam lukisannya satu per satu.

Kembali aku tertegun. Tentu saja Salma juga kenal baik dengan Banyu yang selalu membawakannya coklat setiap kali datang itu. Di lukisan itu, Banyu tampak tersenyum lebar. Tampak bahagia. Barangkali Banyu memang bahagia di Perth sana. Bahagia meski tanpa aku. Tidak sepertiku yang masih saja nelangsa. Untungnya di lukisan Salma itu, aku juga tampak bahagia.

-Bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s