Circle Route: Perempuan itu bernama Puja

Cerita Bening

Perempuan di sampingku tampak asyik memilah-milih buku psikologi populer di rak.

“Aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana ya,?” batinku.

Kugali lagi ingatan-ingatan lamaku.

“Ah iya, sepertinya perempuan ini Puja. Mantan Banyu,” kataku dalam hati.

“Puja? Bener Puja kan?” tanyaku setelah cukup yakin.

“Bening? Ya ampun, apa kabar?” kata perempuan yang ternyata benar Puja itu.

“Aku baik, kamu sendiri apa kabar? Lama banget ya enggak ketemu, kamu langsung menghilang begitu putus dari.. Banyu,” kataku hati-hati.

“Hahahaha, iya, aku emang sengaja enggak mau ketemu Banyu waktu itu, sekalian fokus ke skripsi, norak ya, hahaha,” katanya tergelak.

“Kamu sudah menikah?” tanyaku sambil melirik cincin di jari manisnya.

“Iya, sudah, awal tahun ini, maaf enggak kabar-kabar, aku enggak bikin acara apa-apa soalnya,” katanya.

“Enggak apa-apa, selamat deh kalau gitu, ngomong-ngomong sudah selesai borong bukunya? Ngopi yuk, sudah lama enggak ngobrol sama kamu,” ajakku.

“Boleh, aku bayar belanjaanku ini dulu ya,” jawabnya.

Puja tidak banyak berubah. Hanya rambut hitamnya yang terlihat lebih panjang. Dia masih cantik dan menarik. Mata hitamnya sanggup membuat lelaki manapun bertekuk lutut. Aku selalu suka melihat Puja. Dia selalu tampak ceria dan bahagia. Itu jugalah yang membuatku dulu sangat mendukung Banyu untuk jadian dengannya. Menurutku Puja bisa menjadi penyeimbang karakter Banyu yang dingin dan kaku.

Berdua kami berjalan menuju kasir. Membayar belanjaan masing-masing, lalu beranjak ke warung kopi di seberang toko buku ini. Rasanya senang sekali bertemu dengan Puja. Semenjak putus, Banyu tak pernah lagi bercerita tentang Puja. Bahkan aku tak tahu persis mengapa mereka putus. Menurutku mereka pasangan yang serasi. Kini setelah aku jauh dari Banyu, aku semakin tak tahu apa-apa tentang kisah mereka dulu.

“Hahahahaha, iya iya, aku masih ingat, waktu itu kamu hampir dimasukin di kolam depan kampus sebelum akhirnya diselamatkan Banyu,” ujar Puja.

Untuk sesaat dia menelan ludah. Ekspresi wajahnya tampak berubah.

“Iya, Banyu,” kataku jengah.

Bayangan tentang cowok itu makin kuat menyiksa pikiranku.

“Ngomong-ngomong soal Banyu, kamu tahu di mana dia sekarang?” tanyaku.

Puja terdiam cukup lama. Diaduk-aduknya minuman dalam gelas di depannya.

“Puja, kamu tahu dia di mana ya?” tembakku.

Puja masih diam.

Lalu dia menghela nafas panjang dan berkata, “Dia balik ke Perth. Sudah sejak tiga bulan yang lalu.”

Aku tak bisa menyembunyikan ekspresi kagetku. Rupa-rupanya inilah alasan kenapa Banyu susah sekali kutemukan. Telepon yang tak bisa dihubungi. Email yang tak dijawab. Facebook dan twitter yang tak pernah diperbarui. Barangkali dia memang tak mau lagi kuhubungi. Menyadari itu aku merasa sedih.

“Bening, kamu enggak kenapa-kenapa, kan?” tanya Puja kuatir.

Aku mengangguk pelan.

“Aku tahu yang terjadi di apartemen Banyu malam itu,” kata Puja tiba-tiba.

Aku tertegun.

“Itu kenapa dia memutuskan untuk kembali ke Perth, for good,” terang Puja.

Sebenarnya aku ingin bertanya lebih jauh tentang Banyu, tapi aku tak yakin aku siap dengan fakta-fakta selanjutnya. Seperti fakta bahwa dia marah padaku karena mengkhianati persahabatan kami. Fakta bahwa dia tak mencintaiku. Aku tak perlu mendengar kalimat-kalimat itu dari Puja. Aku sudah tahu. Setidaknya, aku merasa sudah tahu.

Aku masih diam saja saat ponsel Puja berbunyi mengindikasikan sebuah pesan masuk. Puja membacanya sekilas lalu bilang, “Sorry Bening, aku harus pulang, suamiku enggak enak badan.”

Aku hanya mengangguk. Seperti habis tenagaku bahkan untuk bersuara.

“Kamu yakin kamu enggak kenapa-kenapa?” tanya puja sebelum beranjak.

Aku kembali mengangguk dan berusaha memaksakan sebuah senyuman. Mencoba meyakinkan Puja bahwa aku baik-baik saja.

“Oke, aku pulang dulu ya kalau gitu, ini nomorku, kapan-kapan kita ngobrol lagi ya” kata Puja sambil memberiku secarik kertas berisi nomor rumahnya juga nomor ponselnya.

Kami lalu saling berpelukan.

“Iya, makasih banyak ya,” kataku akhirnya.

Setelah Puja pergi, aku masih tenggelam dalam lamunanku sendiri. Mencoba mencari tahu kenapa malam itu aku bisa melakukan kesalahan bodoh. Tapi bukankah Banyu yang menciumku lebih dulu? Bukan aku. Dan sekarang dia kembali ke kota yang sangat jauh dari tempat aku duduk sekarang. Tanpa meninggalkan no telepon, atau email, atau apapun yang membuatku bisa menghubunginya. Aku menghela nafas. Mungkin aku memang ditakdirkan sendirian saja. Bukan dengan Jembar. Bukan dengan Banyu. Bukan dengan siapapun.

Minggu demi minggu berlalu, tetap tak ada kabar apapun dari Banyu. Sudah kutanya Puja kalau-kalau dia tahu alamat Banyu di Australia, atau nomor telponnya, atau apapun yang ada hubungannya dengan Banyu, tapi Puja mengaku tak memiliki informasi apapun. Dia juga hilang kontak dengan Banyu sejak hari dia berangkat ke Perth.

“Jadi benar-benar tak ada cara lagi untuk menemukan Banyu?” kataku setengah bertanya saat aku menelpon Puja untuk yang kesekian kalinya.

Puja tak menjawab. Hanya terdengar desahan panjang. Tanda dia iba pada nasibku.

“Sepertinya tidak. Aku sudah berusaha menghubungi kantornya yang dulu. Hasilnya nol,” kata dia akhirnya.

Giliran aku yang terdiam.

“Ya sudah Puja, gitu aja dulu, sudah malam, maaf ya jadi ganggu kamu,” kataku tak enak.

“Enggak apa-apa Bening. Be strong ya. One way or another, you will find him,” kata Puja berusaha menenangkanku.

I’ll try, okay, bye,” kataku.

“Ehm, tunggu,” kata Puja setengah berteriak.

Aku tak jadi menutup telepon.

“Aku lupa bilang satu hal penting. Sebenarnya…sebenarnya dia juga mencintaimu Bening. Tapi begonya, dia terlalu angkuh untuk menerima cintamu. Dia bilang dia tak mau jadi bayangan Jembar. Dia tidak mau dicintai hanya karena kamu tak punya pilihan lain. He wants to be your first choice. Tadinya kupikir tak ada gunanya memberitahumu hal ini karena, jujur, aku juga sempat ragu kamu benar-benar sayang sama Banyu. Maaf ya. Tapi sekarang aku yakin kamu benar-benar cinta sama dia, dan mungkin, fakta ini bisa membuatmu merasa sedikit lebih baik,” jelas Puja panjang lebar.

Aku melongo. Tidak tahu harus sedih atau bahagia. Penjelasan Puja barusan memang fakta yang menyenangkan, tapi seolah tak ada artinya karena toh Banyu tak bisa lagi kutemui. Apa artinya mengetahui bahwa orang yang kamu cintai juga mencintaimu jika kamu bahkan tak lagi bisa melihatnya, menyentuhnya. Aku diam membisu. Tenggelam dalam pikiranku sendiri.

“Bening, kamu enggak kenapa-kenapa kan?” tanya Puja sedikit cemas karena tak mendengar suaraku.

“Enggak kok, makasih sudah memberitahuku tentang itu,” kataku berusaha terdengar baik-baik saja.

Begitu percakapan dengan Puja selesai, aku menatap langit-langit kamar kosku dengan perasaan tak menentu. Selain terkejut dengan fakta bahwa ternyata Banyu diam-diam menyukaiku sejak dulu, penjelasan Puja barusan juga membuatku mempertanyakan perasaanku sendiri. Benarkah aku jatuh cinta pada Banyu? Jangan-jangan Banyu benar? Aku hanya merasa mencintainya karena terbiasa menghabiskan waktu dengannya? Jangan-jangan aku tidak benar-benar jatuh hati padanya. Pertanyaan demi pertanyaan itu berkecamuk di benakku dan membuatku pusing.

-Bersambung-

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s