Circle Route: Yes, I think I’m in love with you

untitled

“Kamu mau nonton apa hari ini?” tanya Banyu sambil membolak-balik deretan film keluaran terbaru di pusat persewaan video langganan kami.

“Yang romantis dan lucu, please” kataku manja.

Banyu setengah bergidik. Dia tak terlalu suka film-film bergenre komedi romantis. Baginya, film-film serius dan rumitlah yang paling bagus. Sangat bertolak belakang dengan seleraku yang berprinsip bahwa tujuan menonton film adalah menghibur diri, jadi tak perlu susah-susah menonton film yang membuat kita berpikir terlalu berat. Tapi diambilnya juga satu video berjudul “He’s just not that into you”. Film komedi romantis yang bertabur bintang. Sudah lama memang aku berniat menontonnya.

“Pilihan bagus,” kataku.

“Jadi aku bisa cuci mata ngeliatin Bradley Cooper dan kamu cuci mata ngeliatin Justin Long atau Ben Affleck,” tambahku sambil tertawa.

Banyu menggetok kepalaku dengan kunci mobil. Aku mengaduh.

“Sakit, Banyu,” protesku.

Dia meraih kepalaku dan mengusap-usapnya, lalu merangkulkan lengannya di leherku. Seketika aku salah tingkah. Sepertinya ada sinyal salah yang dikirim ke otakku. Kenapa sentuhan Banyu jadi terasa lain? Ini bukan pertama kalinya dia menyentuh kepalaku. Ini bukan pertama kalinya dia menunjukkan perhatiannya padaku. Tapi kenapa malam ini terasa berbeda? Kenapa tiba-tiba aku merasa seperti menemukan seseorang? Sesorang yang baru?

Banyu masih mengalungkan lengannya saat kami membayar biaya rental di kasir. Aku berdoa dalam hati agar dia tak menyadari perubahan rona wajahku. Atau mendengar degub jantungku yang samar-samar berdetak lebih keras dari biasanya. Juga si mas-mas penjaga rental yang tersenyum-senyum simpul menatap kami berdua. Seolah kami ini pasangan yang baru saja pacaran. Tapi Banyu tampak cuek. Sikapnya tak menunjukkan perubahan. Sesuatu yang membuatku diam-diam bersyukur dalam hati.

Hujan mendadak turun saat kami baru saja melangkah keluar dari rental video langganan kami. Sialnya kami tak membawa payung. Banyu langsung melepas jaketnya dan membentangkannya di atas kepala kami untuk menahan rintik hujan. Aku makin salah tingkah. Akhir-akhir ini, susah bagiku untuk tidak merasa senang saat diperhatikan Banyu. Berdua, berpayungkan jaketnya, kami lalu berlari menuju mobil Banyu yang diparkir di seberang jalan.

“Kayaknya pepatah lama harus diubah deh,” kataku pada Banyu begitu kami sampai di mobil.

“Pepatah apa?” tanya Banyu sambil menyalakan mesin.

“Itu pepatah ‘sedia payung sebelum hujan’, harusnya ‘sedia jaket sebelum hujan’, hihihi,” aku terkekeh sendiri.

“Enggak lucu,” Banyu menggeleng sinis.

Giliran aku yang menggetok kepalanya dengan kunci apartemen.

Sesampainya di apartemen Banyu, kami langsung menyiapkan teman andalan menonton film: selimut, bantal duduk dan makanan ringan. Malam ini kami berteman fish&chips, cemilan ikan goreng tepung dan kentang goreng kesukaan Banyu. Panganan yang dia kenal saat menempuh studi S2 di pesisir barat Australia dulu. Banyu sendiri yang membuatnya. Dia lumayan jago mengolah makanan. Jauh lebih jago dibandingkan aku yang hanya bisa membuat nasi goreng dan telor ceplok. Itupun sering gosong atau keasinan. Aku benar-benar tak ahli soal masak-memasak.

Berdua kami mengunyah dalam diam sambil memelototi film yang kami sewa. Ceritanya memang lucu dan romantis. Cocok dengan seleraku. Sesekali Banyu menguap tanda tak sabar dengan jalan ceritanya yang menurutnya terlalu lambat dan mudah ditebak. Aku tak peduli. Film komedi romantis selalu bagus untuk perempuan seperti aku. Perempuan yang diam-diam sepertinya jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Benarkah aku jatuh cinta pada Banyu? Pertanyaan itu akhir-akhir ini kerap timbul tenggelam dalam benakku seiring semakin seringnya kami meluangkan waktu bersama.

Tiba-tiba “pettt,” listrik di apartemen Banyu padam.

Well done, PLN!” kata Banyu bersarkasme sementara aku berteriak kecewa.

Film yang kami tonton sedang seru-serunya. Tapi kemudian aku geli sendiri karena merasa pengalaman ini konyol. Mati lampu saat sedang asyik-asyiknya menonton film. Baru pertama kali ini aku mengalaminya.

Diselimuti gelap begini, mendadak aku merasa canggung karena berada di satu ruangan bersama seorang laki-laki. Laki-laki yang lengan kanannya menempel di lengan kiriku. Mengirimkan sinyal-sinyal yang ditolak sekuat tenaga oleh akalku. Kami terdiam cukup lama. Tak beranjak dari tempat duduk kami.

“Kamu mau aku ambil senter?” tanya Banyu akhirnya.

“Ditunggu saja deh, palingan juga enggak lama,” kataku.

Entah kenapa aku suka gelap seperti ini. Mungkin karena aku tak perlu menyembunyikan rona merahku setiap kali menatap Banyu. Mungkin karena aku tak perlu takut Banyu menyadari perubahan di wajahku setiap kali dia menyentuh rambutku, atau menggengam tanganku.

Lalu tiba-tiba, aku merasa tubuh Banyu bergerak ke arahku. Pelan wajahnya mendekat. Aku bisa merasakan hembusan perlahan nafasnya yang hangat. Entah kenapa mataku spontan terpejam. Meskipun sebenarnya itu tak terlalu perlu karena ruangan ini toh sedang gelap gulita. Lalu sebuah ciuman lembut mendarat di bibirku. Aku tak tahu apakah ini pengaruh film yang kami tonton, atau karena sesuatu, yang jelas aku merasakan sensasi aneh di perutku. Sensasi yang sama saat dulu aku jatuh cinta pada Jembar. Tapi ini Banyu, bukan Jembar. Apakah ini berarti aku benar-benar mencintai Banyu?

“Byarrr,” listrik di apartemen Banyu kembali menyala.

Seketika itu juga Banyu menarik ciumannya.

Spontan aku bertanya:

“Kenapa?”

Banyu diam saja. Tiba-tiba dia menarikku dan memelukku lama. Aku berpikir, sekaranglah saatnya. Saatnya aku jujur pada Banyu tentang perasaanku yang sesungguhnya.

“Aku suka kamu, Banyu,” kataku lirih.

Tak pernah kusangka aku akan jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Tapi entah kenapa aku yakin dengan perasaanku ini. Yakin bahwa ini benar adanya.

Banyu melonggarkan pelukannya. Dia menatapku bingung.

“Maksudmu?” tanyanya.

“Aku..aku..kurasa aku jatuh cinta padamu. Kamu nyata Banyu. Kamu selalu ada untukku. Sedangkan Jembar, dia masa lalu yang mustahil kumiliki,” terangku.

Di luar dugaanku, rahang Banyu mengeras.

“Pulanglah Bening,” katanya.

Sekarang gantian aku yang bingung. Kupikir tadinya Banyu akan menyambut cintaku. Kupikir Banyu juga memendam perasaan yang sama. Kupikir ciuman tadi menjelaskan semuanya. Ternyata tidak. Dia justru menyuruhku pulang.

“Ta..tapi, a..aku..” aku tergagap.

“Pulang!” bentak Banyu.

Aku kaget. Setengah tersinggung kuraih tas yang tergeletak di lantai. Kutinggalkan Banyu yang berdiri menatap ke arah jendela, seolah tak sudi menatap ke arahku. Sesegera mungkin aku berlari keluar dari apartemen miliknya. Air mata ini tak lagi bisa kubendung.

Rasa sedih dan tersinggung di dalam hatiku bercampur dengan perasaan menyesal. Baru aku sadar bahwa aku baru saja melakukan kesalahan paling bodoh yang bisa kulakukan: jatuh cinta pada sahabatku sendiri. Aku bodoh telah mengira Banyu juga menyukaiku. Sekarang aku terancam kehilangan semuanya: kehilangan cintaku, juga sahabatku. Aku menyetop taksi dan menangis sepuasnya dalam perjalanan menuju kosku. Tak peduli pada sopir taksi yang menatapku heran. Dia tak tahu bahwa malam ini hatiku hancur. Lebur.

Tangisku belum berhenti saat aku turun dari taksi dan masuk ke dalam kamar kosku. Langsung kurebahkan diri ke kasur dan kubenamkan mukaku di dalam bantal. Berharap air mata ini berhenti mengucur. Kupandangi foto Banyu dan aku saat kami wisuda dulu yang kupajang di dekat kasur. Kami tampak bahagia sebagai sahabat. Kenapa aku harus merusak itu semua? Aku makin merasa bersalah dan sedih.

“Kamu benar-benar bodoh, Bening,” kataku pada diri sendiri.

-Bersambung-

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s