Circle Route: Cerita Bening

Orang Ketiga

Foto diambil dari http://cookinghelpsite.com/pineapple-smoothie-drink/

Siang itu berhias gerimis. Aku baru saja beranjak dari dudukku untuk makan siang saat ponselku bergetar. Sebuah pesan pendek masuk. Dari nomor yang tak kukenal. Isinya: “Bening, ini Sukma (istri Jembar), bisa ketemu di kafe samping kantormu sebentar? aku mau ngomong sesuatu.”

Hatiku langsung mencelos ketika itu. Menyadari bahwa hal yang paling kutakutkan akhirnya terjadi juga.

Sukma memang sudah lama mengetahui hubunganku dengan Jembar. Jembar sendiri yang bilang ke Sukma bahwa dia jatuh cinta lagi pada wanita lain. Wanita itu tak lain adalah aku: Bening Embun Pagi, rekan kerjanya di kantor. Kata Jembar, waktu itu Sukma hanya diam. Tidak melarang tapi juga tidak mengizinkan. Jembar mengatakan bahwa dia masih mencintai Sukma, sama seperti dia mencintai aku. Dan itu benar adanya. Jembar memang mencintai kami berdua.

Sudah hampir dua tahun berlalu sejak pengakuan itu dan sekarang aku harus menemui resiko yang lama terpendam. Kuhela nafas panjang.

“Baiklah, sekarang saatnya,” batinku menguatkan diri.

Dengan sedikit gugup, kulangkahkan kaki menuju kafe di samping kantor.

Di kursi paling pojok, duduk perempuan elegan yang kuketahui dari sebuah foto sebagai istri Jembar. Perempuan yang tujuh tahun lebih tua dariku ini tampak cantik, dewasa dan berkelas. Sementara aku, hanya berada di satu level lebih tinggi dari ABG labil. Aku sendiri heran mengapa Jembar jatuh cinta padaku sementara dia memiliki istri yang sempurna.

Pernah suatu waktu kutanyakan itu pada Jembar. Saat itu dia hanya bilang:

“Ibarat air, Sukma itu air yang tenang, teduh, menenangkan, dia selalu menjadi tempat terbaik untuk pulang. Sementara kamu, Bening, adalah air yang bergejolak, menantang, dan menyegarkan. Kalian berdua saling melengkapi satu sama lain. Itu sebabnya aku mencintai kalian berdua sama besarnya.”

Aku tahu jawaban Jembar itu menunjukkan betapa egois dia sebenarnya. Kami berdua, Sukma dan aku, hanya dijadikan sebagai objek pelengkap yang memenuhi kebutuhannya. Tak bisa menemukan semua kebutuhannya itu di satu perempuan, dia mencarinya pada perempuan lain. Dan kebetulan perempuan itu aku. Tapi bukannya tersinggung, saat itu aku justru merasa senang. Entah kenapa, aku merasa memiliki arti di dalam hidup Jembar. Dan meski sakit, itu membuatku bahagia.

Langkahku mendadak terhenti. Tiba-tiba saja aku sudah berdiri di depan meja Sukma. Dia tersenyum dan mempersilahkanku duduk.

“Mau pesan apa?” tanyanya ramah.

Pineapple smoothies” kataku pada pelayan kafe yang datang tak lama setelah aku duduk.

Yoghurt yang lembut mungkin bisa membantu mendinginkan hatiku. Lagipula di depan Sukma, aku gengsi kalau hanya memesan teh, yang sebenarnya adalah minuman favoritku.

“Apa kabar?” tanya Sukma lagi.

“Baik,” jawabku sedikit ketus.

Aku ingin menunjukkan pada Sukma siapa yang lebih berkuasa, siapa yang superior, siapa yang lebih memiliki Jembar. Meski sebenarnya aku gugup juga. Dan bukankah Jembar pernah bilang, dia mencintai kami berdua sama besarnya? Jadi tak ada yang benar-benar menang di antara kami berdua?

“Ternyata benar kata Jembar, kamu cantik,” ujar Sukma setelah kami terdiam cukup lama.

Aku diam saja tak bereaksi.

Sukma menghela nafas lalu melanjutkan, “Bening, mungkin kamu sudah tahu maksud pertemuan ini.”

Aku diam tak menjawab. Masih memasang muka ketus dan seolah tak peduli.

“Tolong tinggalkan Jembar,” kata Sukma pelan.

Kali ini ada getaran samar dalam nada suaranya. Tapi tampak jelas dia sangat bisa menguasai dirinya.

“Kamu kan cantik, masih muda, kamu masih bisa bertemu dan jatuh cinta pada pria lain,” katanya lagi

Aku masih diam tak menanggapi. Aku tak tahu harus berkata apa. Diam adalah cara yang paling aman dalam situasi seperti ini.

“Aku percaya kamu bukan orang jahat,” kembali Sukma berbicara.

Kali ini dahiku mengernyit.

“Jahat? sama sekali tidak. Aku hanya orang yang terbutakan oleh cinta, dan itu bukan sepenuhnya salahku. Kita toh tak bisa memutuskan kepada siapa kita jatuh cinta. Kalau ternyata aku jatuh cinta pada suamimu, anggap saja semesta tengah mempermainkan kita berdua.”

Tapi itu semua hanya terucap di pikiranku. Entah kenapa mulutku terkunci rapat.

“Aku percaya kamu orang baik Bening. Hatimu bening. Sama seperti namamu. Jadi kumohon, relakan dia Bening. Kembalikan dia. Biarkan dia kumiliki sendiri. Aku yakin kamu bisa mengerti,” lanjut Sukma panjang lebar.

Pelayan datang membawa pesananku. Minuman berwarna kuning lembut itu tampak tak terlalu menggiurkan. Mungkin karena dadaku sudah terlanjur sesak. Beginikah rasanya ketika seseorang meminta hal yang paling kamu cintai? Paling kamu inginkan? Pantas saja dulu ketika masih bocah, kakakku sering mengamuk saat mainan atau buku kesayangannya kuambil.

Tanpa menunggu jawabanku, Sukma beranjak dari duduknya.

“Itu saja yang mau kusampaikan, aku harus pulang, mertuaku menunggu di mobil,” ujarnya.

Sekilas aku merasa adanya penekanan pada kata mertua. Seolah ingin menegaskan bahwa dialah pemilik sah Jembar. Aku hanya mengangguk. Tak mampu berkata apa-apa. Jelas sekali Sukma yang mendominasi obrolan kami siang itu.

“Sekadar memberitahu, aku tengah hamil tiga bulan saat ini,” tambahnya sebelum berlalu.

Aku limbung. Makin lama, pandanganku makin kabur oleh air mata. Kusesap pineapple smoothies di gelasku. Kupandangi jalanan yang sesak oleh kendaraan berlalu lalang. Dulu, di jalan itu juga Jembar pernah menyampaikan keinginannya untuk menjadikanku kekasihnya. Saat kami melewatkan sore bersama di dalam perjalanan menuju kosku. Dengan mata sayunya dia menatapku dan berkata, “Kamu mau jadi kekasihku?”.

Saat itu aku mengangguk dengan sumringah. Membayangkan hari-hari bahagia yang akan kami lalui bersama. Memang sejujurnya Jembar telah memberiku kebahagiaan. Meski perih dan cemburu adalah konsekuensinya.

Tapi barusan, istri Jembar bilang ingin memilikinya sendiri. Dia tak mau lagi berbagi Jembar denganku. Apa yang harus aku lakukan? Kepalaku terasa pening sekali. Hanya satu orang yang bisa membantuku saat ini. Orang itu, tentu saja Banyu, satu orang yang selalu menjadi teman baikku selama ini. Segera kukirim pesan pendek padanya, mengajak bertemu di tempat makan kami yang biasa, sore ini selepas kerja. Beruntung Banyu memenuhi ajakanku. Aku sungguh tak tahu lagi harus bercerita pada siapa.

“Jadi menurutmu aku mesti gimana?” tanyaku pada Banyu yang tengah asyik mengunyah lumpia udang kesukaannya.

Aku sediri tak memesan apa-apa. Sejak bertemu Sukma, nafsu makanku hilang. Pineapple smoothies tadi siang adalah yang terakhir mengisi lambungku. Selepas itu aku belum makan apa-apa. Untung penyakit maagku tidak kambuh.

Banyu menoleh ke arahku, memberikan tatapan penuh tanya seolah-olah pertanyaan yang kuajukan barusan adalah pertanyaan paling bodoh di dunia sebelum akhirnya berkata:

“Kamu kan sudah tahu jawabannya dari dulu.”

“Iya, tapi..” kataku.

“Tapi apa? Terlalu cinta?” tukas Banyu.

Aku diam. Apa yang dikatakan Banyu barusan tentu saja benar. Aku terlalu mencintai Jembar. Sebenarnya sudah sering aku bertanya pada Banyu tentang ini. Yang belum pernah aku lakukan adalah melakukan yang seharusnya aku lakukan dari dulu: meninggalkankan Jembar.

“Kamu sudah tahu jawabannya Bening. Dari dulu kamu sudah tahu. Sekarang tinggal kamu mau atau tidak,” kata Banyu dengan nada melunak.

Aku bingung. Sungguh aku sangat mencintai Jembar. Aku tak keberatan menjadi simpanan, kekasih, selingkuhan atau apapun istilahnya. Tapi aku juga tahu ini tidak adil untuk Sukma, apalagi dia tengah mengandung. Aku tak bisa menolak permintaan Sukma. Aku harus meninggalkan Jembar.

Menyadari kenyataan pahit itu, aku mulai terisak. Banyu menatapku iba. Ditariknya aku ke dalam pelukannya. Aku menangis di lengan Banyu, sementara tangan satunya masih sibuk mencomot lumpia.

“Berhenti makan kenapa sih? Aku lagi sedih tauk,” kataku jengkel.

“Enak aja, yang sedih kan kamu, kenapa aku harus ikut-ikutan enggak mau makan,” kata Banyu.

“Lagipula lumpia ini enak sekali”, tambahnya sambil menjejalkan jajanan itu banyak-banyak ke dalam mulutnya.

Aku tergelak. Banyu memang selalu bisa membuatku tertawa.

 -Bersambung-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s