Circle Route: Prolog

Postingan saya kali ini akan menjadi awal dari proyek pribadi saya untuk mengunggah novelette saya yang berjudul Circle Route di blog ini. Circle Route sendiri merupakan karya panjang pertama saya dan sudah saya rampungkan sejak 2012 silam. Namun selama empat tahun terakhir, dan terutama setelah berdiskusi dengan beberapa rekan penulis maupun editor, novelette ini telah banyak mengalami perubahan dan perbaikan di sana-sini. Saya akan mengunggah bagian-bagian dari novelette Circle Route ini secara rutin dan berurutan agar bisa dinikmati sebagai satu cerita yang utuh dan bersambung (cerbung). Apabila ada persamaan peristiwa, nama, atau tempat, hal itu hanyalah pemanis cerita dan bukan berdasarkan kejadian nyata. Akhir kata, selamat membaca! 🙂

Prolog: Laki-laki yang Kucintai Sampai Ubun-ubun


“Kalau bisa, semua kenangan ini ingin aku masukkan ke dalam kotak, kukunci rapat-rapat lalu kubuang ke laut,” kataku pada Banyu, di suatu sore yang cerah di bulan Maret, saat kami duduk berdua di tepi pantai di kota tempat kami tinggal, menatap laut yang berombak pelan di depan kami.

“Iya, lalu tsunami akan membawanya kembali,” kata Banyu sinis.

Aku mendelik. Banyu memang bukan tipe pendengar yang munafik. Yang mengiyakan di depan, tapi mencibir omonganmu di belakang. Dia tipe pria yang jujur. Terlalu jujur malah. Dia tak selalu mau kucurhati. Bukan hanya sekali dua kali dia menunjukkan raut muka bosan dan tak mau mendengar.

Tapi anehnya, hanya pada Banyu aku bisa bercerita. Bercerita tentang hidupku yang ajaib. Bercerita tentang semuanya: keluarga, karir, mimpi-mimpi, termasuk tentang laki-laki yang aku cintai sampai ubun-ubun: Jembar. Pria bermata sayu yang mengisi hatiku sejak dua tahun terakhir. Fakta ini takkan menjadi masalah seandainya saja tidak disertai embel-embel: pria yang telah memiliki seorang istri dan saat ini hampir memiliki seorang anak.

Ya, sudah hampir dua tahun ini aku mencintai dan secara sadar menjalin hubungan dengan pria yang sudah menikah, bahkan akan punya anak. Mungkin ini salah satu hal yang membuat Banyu malas mendengar curhatanku. Menurutnya aku membuang waktu bersama orang yang salah. Menurutnya aku seperti tak laku saja. Menurutnya aku bodoh. Dan kalimat-kalimat negatif lain yang selalu dia lontarkan saat “sesi curhat”.

Tapi anehnya lagi, Banyu tak pernah pergi. Dia selalu mendengarkan. Setidaknya, dia selalu pura-pura mendengarkan. Seperti juga sore ini, saat lagi-lagi aku curhat padanya tentang Jembar, dia tak beranjak pergi. Meskipun menanggapi curhatanku dengan sinis, dia tetap duduk dan mendengarkan sampai ceritaku selesai.

Banyu adalah temanku sejak awal masa kuliah. Kami kuliah di jurusan yang sama dan sama-sama dihukum menghitung daun saat hari pertama orientasi kampus. Gara-garanya, saat itu kami lupa tidak mengisi penuh botol minum kami yang menjadi tugas dari kakak tingkat. Sejak itulah kami akrab. Saling tahu kebaikan dan keburukan masing-masing, dan kami masih bersahabat dekat sampai sekarang, tujuh tahun sejak kejadian menghitung daun itu.

Kami terus bersahabat bahkan ketika Banyu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliahnya di Perth, Australia, selama dua tahun. Selama itu juga kami tetap saling kontak. Selalu bertukar kabar lewat telepon atau video chat hampir setiap minggu. Pendeknya, Banyu adalah teman baikku. Teman paling baik.

“Kamu harus sembuh dulu Bening. Setelah itu kamu tak perlu repot-repot membuang semua kenangananmu ke laut, kenangan itu akan hilang dengan sendirinya,” lanjut Banyu yang membuatku terdiam cukup lama.

Banyu benar. Aku sakit. Dan sakit itu dimulai sejak sebulan lalu, saat aku memutuskan untuk meninggalkan Jembar. Setelah merenung lama dan mempertimbangkan masak-masak, aku memilih mengakhiri hubungan tak sehat itu.

Tapi hingga sekarang, aku masih merasa sakit setiap kali mengingatnya. Masih sedih. Masih merasa tak berdaya, dan masih saja terpesona saat kami berpapasan di kantor, sekali atau dua kali. Bahkan ketika dengan sengaja Jembar memalingkan muka saat diam-diam aku mencuri teduh di wajahnya, aku masih saja luluh, lumer dan makin jatuh cinta.

Sebenarnya sudah cukup lama aku dilanda kegalauan tentang hubungan kami. Sudah lama aku merasa gelisah dan tak nyaman dengan keadaan ini. Sudah lama diam-diam aku melamun dan mencari cara yang tepat untuk mengakhirinya. Tapi aku selalu tak bisa. Atau lebih tepatnya aku tak mau. Aku terlalu mencintai Jembar. Aku tak ingin kehilangan dia. Meski itu berarti aku harus menjadi yang kedua. Tapi sontak aku berubah pikiran, sejak aku bertemu dengan Sukma, istri Jembar.

-Bersambung-


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s